BI: Rupiah Tidak Berisiko Melemah ke Level Rp 15.000 per Dolar AS

Pasalnya, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s memprediksi nilai tukar rupiah bakal menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS.

BI: Rupiah Tidak Berisiko Melemah ke Level Rp 15.000 per Dolar AS
Syahrizal Sidik/Tribunnews.com
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Doddy Zulverdi saat jumpa pers di Bank Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTABank Indonesia memastikan nilai rukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak akan berisiko menunjukkan pelemahan yang cukup dalam ke level Rp 15.000 per dolar AS. 

 Pasalnya, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s memprediksi nilai tukar rupiah bakal menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS. 

 Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Doddy Zulverdi mengatakan belum melihat adanya potensi depresiasi tersebut. Sebab kata Doddy, fundamen ekonomi Indonesia terjaga cukup baik, terlihat dari laju inflasi di kisaran 2,5 hingga 4,5 persen secara tahunan dan defisit neraca transaksi pembayaran di angka 2 hingga 2,5 persen terhadap PDB. 

 Doddy menjelaskan, adanya proyeksi dari lembaga pemeringkat Standard and Poor’s mengenai depresiasi rupiah menunjukkan angka psikologis berdasarkan uji ketahanan. 

 “Proyeksi tersebut bisa dilakukan siapa saja, tapi itu buka merupakan proyeksi Bank Indonesia, hanya mengacu pada level sebelumnya yang pernah terjadi di Indonesia,” ungkap Doddy di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (14/3/2018). 

 Memang, jika dihitung sejak awal Maret 2018, mata uang garuda mengalami pelemahan sebesar 0,27 persen. Namun jika dihitung sejak awal tahun, niai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,5 persen. 

 Bloomberg mencatat, pada perdagangan Rabu (14/3/2018) rupiah menguat tipis ke level Rp 13.749 per dolar AS dari posisi kemarin di level Rp 13.752 per dolar AS. Doddy menjelaskan, posisi rupiah di level tersebut memang belum sesuai dengan fundamen ekonomi. Dia mengharapkan, adanya penguatan pada rupiah dari level Rp 13.700. 

 Saat ini Bank Indonesia sebagai regulator bersama dengan otoritas terkait menjaga fundamen tersebut agar nilai tukar rupiah bisa kembali stabil. 

 “Level sekarang menurut penilaian kami belum sesuai fundamental, untuk itu kita akan jaga dengan dukungan otoritas lain agar nilai tukar bisa stabil, bahkan menguat,” pungkas Doddy. 

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved