Freeport Indonesia

Freeport McMoRan Tetap Ingin Jadi Pengendali Tambang di Grasberg Berikut Pengelolaan Keuangannya

"Penting bagi kami untuk terus memiliki kendali atas cara mengelola bisnis dan kebijakan keuangannya," kata Richard Adkerson

Freeport McMoRan Tetap Ingin Jadi Pengendali Tambang di Grasberg Berikut Pengelolaan Keuangannya
RADITYA HELABUMI
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan CEO Freeport-McMoran Inc, Richard C Adkerson (kanan ke kiri) saat memberikan keterangan pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (29/8). Freeport-McMoran Inc selaku induk usaha PT Freeport Indonesia menyatakan kesediaan untuk menjalankan sejumlah kesepakatan antara lain pembangunan smelter dan divestasi saham sebesar 51% terkait kelanjutan operasional di Indonesia. Kompas/Raditya Helabumi (RAD) 29-08-2017 

Laporan Reporter Kontan, Pratama Guitarra

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Induk usaha PT Freeport Indonesia (PTFI) yakni Freeport McMoRan.inc (FXC) dalam conference call Kuartal I/2018 ini menegaskan, meskipun besaran saham akan dikuasi pemerintah Indonesia sebanyak 51%, tetapi ia berharap tetap menjadi pemegang kendali bisnis dan kebijakan keuangan di tambang Grasberg, Papua itu.

CEO FCX, Richard C. Adkerson mengatakan sangat penting bagi pihaknya untuk melanjutkan pengelolaan Freeport Indonesia sesuai cara bisnisnya. Hal tersebut sedang dirundingkan dengan pemerintah.

"Penting bagi kami untuk terus memiliki kendali atas cara mengelola bisnis dan kebijakan keuangannya," kata Richard Adkerson, Selasa malam (24/4/2018).

Adkerson menilai langkah pemerintah untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia sebesar 40% sebagai strategi dalam proses divestasi tersebut sebagai sesuatu yang positif.

Dia menyatakan pihaknya tidak akan terlibat langsung dalam proses tawar menawar hak partisipasi Rio Tinto.

Seperti diketahui, pembelian hak partisipasi Rio Tinto dalam rangka memenuhi kewajiban divestasi 51% Freeport Indonesia akan mengurangi dampak langsung terhadap FCX yang saat ini menguasai 91,64% saham, secara signifikan.

Dengan mengambil hak partisipasi Rio Tinto, maka FCX hanya perlu melepas sahamnya sedikit lagi.

Selain itu, Richard juga bilang, bahwa kepastian stabilitas investasinya di Indonesia hingga 2041 menjadi isu yang harus segera diselesaikan dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan pemerintah Indonesia. 

Baca: Pertamina: Sumur Minyak yang Meledak di Aceh Bukan Milik Kami

Richard mengklaim, Di tahun 2017, pihaknya telah mencapai kerangka penyelesaian untuk stabilitas tersebut.

“Kuncinya adalah jangka waktu kontrak kami saat ini, dengan persyaratan fiskal dan ketentuan hukum, berlaku tetap dan tidak diubah di masa depan," ungkapnya.

Dia menegaskan kedua belah pihak berharap negosiasi bisa segera selesai. Dia menilai Presiden Joko Widodo memiliki keinginan yang kuat agar kesepakatan bisa diambil dalam waktu dekat. "Dia optimistis akan hal itu," ujar Richard.

Dijadwalkan, pada pekan depan, Menurut keterangan Richard, akan ada pertemuan antara ia dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Washington DC.

 
 

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved