Gejolak Rupiah

Komitmen BI Jaga Stabilitas Rupiah

Otoritas moneter menyatakan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.

Komitmen BI Jaga Stabilitas Rupiah
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Otoritas moneter menyatakan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.

Nilai tukar Rupiah, mengacu data Bloomberg pada Kamis (12/7/2018) tersungkur ke level Rp 14.415 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 14.385 per dolar AS.

Depresiasi Rupiah sejak awal tahun tercatat sebesar 6,12 persen. Pelemahan Rupiah terimbas dari perkasanya mata uang negeri Paman Sam.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, pihaknya telah menempuh serangkaian langkah kebijakan ditempuh termasuk koordinasi erat dengan Pemerintah.

Kebijakan kenaikan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen yang diputuskan Bank Indonesia pada 28-29 Juni 2018 mendapat persepsi positif investor dan mendorong arus masuk modal asing ke Indonesia.

“Langkah ini juga disambut baik pelaku pasar sehingga turut mendorong terjaganya stabilitas nilai tukar Rupiah,” kata Perry dalam keterangannya, kemarin.

Perry melanjutkan, koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat implementasi reformasi struktural.

“Koordinasi yang erat diharapkan dapat mendorong ekspor, mengurangi impor, mendorong pariwisata dan arus masuk modal asing,” imbuhnya.

Gubernur Bank Indonesia juga menyatakan bahwa Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar.

Kebijakan tersebut ditopang oleh pelaksanaan operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar valas maupun pasar uang.

Di samping itu, BI juga merelaksasi kebijakan LTV yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan di sektor properti, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help