Strategi AirAsia Menyiasati Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia

Merangkaknya harga minyak dunia yang mencapai level 80 dolar AS per barrel turut berdampak pada kinerja AirAsia

Strategi AirAsia Menyiasati Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia
Syahrizal Sidik
CEO Grup AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan di Tune saat ditemui di Tune Hotels, Kuala Lumpur, Selasa (17/7/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Merangkaknya harga minyak dunia yang mencapai level 80 dolar AS per barrel turut berdampak pada kinerja maskapai penerbangan PT AirAsia Indonesia Tbk.

CEO Grup AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengakui, bahan bakar saat ini masih menjadi faktor utama dalam operasional maskapai penerbangan, sebab komponen bahan bakar menopang sekitar 35 persen dari biaya operasional.

“Tentunya kalau ada kenaikan dari bahan bakar 10 persen saja kan cost kita naik 3,5 persen. Ini kenaikannya kan memang signifikan, kita sendiri harus merevisi bujet kita beberapa kali,” kata Dendy saat ditemui di Tune Hotels, Kuala Lumpur, Selasa (17/7/2018).

Dampak dari kenaikan harga minyak juga mulai terasa pada kinerja perusahaan dengan kode saham CMPP itu pada triwulan pertama 2018.

AirAsia Indonesia mencatatkan rugi bersih Rp 218,66 miliar. Kerugian tersebut dikontribusi dari turunnya pendapatan usaha perseroan 4,55 persen menjadi Rp 843,83 miliar. Sementara, beban usaha bersih tercatat naik 11,02 persen menjadi Rp 1,12 triliun.

Namun demikian, Dendy mengakui, pihaknya tidak langsung membebankan kenaikan harga minyak dengan menaikkan tarif tiket pesawat. Dendy menyiasatinya dengan terus meningkatkan layanan pelanggan agar permintaan (demand) selalu tetap ada.

“Kita menyiasati ini semua tentunya kembali lagi bahwa yang kita harus jaga adalah masalah demand itu sendiri, demand ini juga tentunya sensitif terhadap harga,” jelas Dendy.

Revisi Target Pertumbuhan

Dalam kesempatan yang sama, Dendy menambahkan, pihaknya juga merevisi target pertumbuhan dua digit hingga akhir tahun ini karena terdampak naiknya harga minyak.

“Memang awal tahun kita sempat menargetkan pertumbuhan 20 persen, tapi dengan fuel price ini kita akan revisi mungkin tidak akan mencapai 20 persen karena kita akan lebih hati-hati,” jelas Dendy.

Namun demikian, pihaknya optimis, maskapai penerbangan dengan motto “Now Everyone Can Fly” ini bisa tetap bertumbuh di tahun ini. Sebab, perseroan akan menambah rute-rute penerbangan baru di 2018 seperti Kuala Lumpur-Silangit, Bangka Belitung dan menambah tiga pesawat baru hingga akhir tahun ini.

“Kemungkinan kita tidak akan mencapai pertumbuhan 20 persen, tapi kita optimis akan tetap tumbuh,” tuturnya.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help