Kereta Bandara Sepi Penumpang, Susah Diakses dan Harga Tiket Kemahalan

Fasilitas dasar KA Bandara yang dinilai belum dapat diakses dengan mudah serta tiket perjalanan yang dinilai masih kemahalan.

Kereta Bandara Sepi Penumpang, Susah Diakses dan Harga Tiket Kemahalan
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Kereta Api kereta Bandara Soekarno-Hatta tiba di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta Pusat, saat tahap uji coba, Selasa (28/11/2017). 

Laporan Reporter Kontan, Tane Hadiyantono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Setahun setelah Kereta Api Bandara Soekarno Hatta dioperasikan oleh PT Railink menuai sejumlah kritik dan saran. Kritik tersebut terutama diarahkan pada fasilitas dasar KA Bandara yang dinilai belum dapat diakses dengan mudah serta tiket perjalanan yang dinilai masih kemahalan.

Hal ini menyebabkan kereta bandara masih belum ramai penumpang seperti yang diharapkan. 

Mengutip kajian Institut Studi Transportasi menyebutkan, tingkat okupansi penumpang KA Bandara hanya 26 persen dengan pukul rata penumpang per hari di rata-rata 5.000 orang. Angka ini dinilai masih terlalu rendah.

Apalagi jika mengingat pemerintah memiliki rencana besar adanya peralihan ke transportasi umum sebesar 40% pada tahun 2019 dan 60% pada tahun 2029.

Artinya dengan angka okupansi KA Bandara yang masih rendah ini, perjalanan menuju bandara Soetta dengan kereta masih dinilai kurang populer.

Direktur Instra Deddy Herlambang memaparkan setidaknya terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan rendahnya okupansi ini. Salah satunya adalah lemahnya perencanaan infrastruktur KA Bandara yang berada di luar aktivitas utama kedatangan dan kepergian penumpang.

"Sehingga pengguna harus diantarkan dengan feeder skytrain menuju terminal, menyebabkan publik enggan menggunakan KA Bandara karena dianggap terlalu merepotkan, apalagi bila membawa bagasi yang banyak," katanya, Rabu (9/1/2019). 

Baca: Polisi: Setahun, Omset Transaksi Seks Germo yang Ageni Artis Vanessa Angel Tembus Rp 2,8 Miliar

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setiawarno menyampaikan rendahnya tingkap okupansi ini juga dikarenakan fasilitas pendukung KA Bandara di belum mumpuni.

"Bandara itu tidak didesain ada akses kereta. Kalau di negara yang lain kan sudah ada keluar dikit bisa milih mau bus mobil atau kereta," katanya seperti dikutip Kontan, Rabu (9/1/2019).

Baca: PT Dirgantara Dipercaya Rakit 8 Helikopter Produksi Airbus Pesanan TNI AU

Hingga saat ini, pihak Railink memang belum memberikan target okupansi untuk kereta ini. "Mengingat kita baru berumur satu tahun di Soetta, maka memang benar masih ada banyak catatan yang harus kita lakukan," kata Direktur Utama Railink Heru Kuswanto kepada Kontan, Rabu (9/1/2019)

Namun terkait harga, Heru menyatakan tidak ada opsi untuk penurunan harga lagi karena sudah mempertimbangkan kondisi finansial dan kemampuan dan kemauan beli masyarakat. Menurutnya kalaupun ada opsi untuk penurunan harga, pemerintah harus mengintervensi dengan memberikan dorongan kepada masyarakat.

"Bukan memberikan subsidi ke kami, tapi memberikan insentif bisa finansial atau kemudahan lain ke masyarakat," katanya.

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved