Huawei Copot Direktur Penjualan Setelah Tertangkap Oleh Intelijen Polandia

Pihak Huawei mengatakan, penangkapan Wang tidak ada hubungannya dengan Huawei meskipun insiden tersebut mencermarkan nama perusahaan ini.

Huawei Copot Direktur Penjualan Setelah Tertangkap Oleh Intelijen Polandia
SCMP
Wang Weijing 

Laporan Reporter Kontan, Nur Qolbi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Perusahaan raksasa teknologi asal China, Huawei, memecat Direktur Penjualan Huawei Wang Weijing setelah intelijen Polandia menangkap Wang di Warsawa, Polandia. Wang ditangkap atas dugaan menjadi mata-mata China.

Pihak Huawei mengatakan, penangkapan Wang tidak ada hubungannya dengan Huawei meskipun insiden tersebut mencermarkan nama perusahaan ini. 

"Huawei mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku di negara tempat ia beroperasi, dan kami mewajibkan setiap karyawan untuk mematuhi hukum dan peraturan di negara tempat mereka tinggal," kata Huawei dalam pernyataan tertulis.

Seperti dikutip Reuters dari media Polandia pada Jumat (11/1/2019), Wang ditangkap bersama dengan seorang mantan agen intelijen senior Polandia. Dengan begitu, Wang menjadi direksi kedua Huawei yang ditahan.

Baca: Jusuf Kalla: Bikin Alumni Terbelah, Kalau Mau Dukung Paslon 1 atau 2, Jangan Bawa-bawa Universitas

Sebelumnya, aparat keamanan Kanada menahan Kepala Keuangan Huawei Sabrina Meng Wanzhou pada bulan lalu atas permintaan jaksa penuntut Amerika Serikat (AS). Namun, Sabrina sudah dibebaskan dengan jaminan.

Penangkapan ini terjadi di saat berbagai negara mencurigai Huawei. Perusahaan ini dituduh bekerja sebagai mata-mata untuk Pemerintah China. Di sisi lain, Huawei berkali-kali membantah tuduhan tersebut.

Bahkan, Pemerintah AS telah melihat perusahaan ini sebagai ancaman nasional. AS mengeluarkan undang-undang yang melarang pemerintah dan kontraktor di AS untuk menggunakan teknologi buatan Huawei.

Baca: Menambah Beban, Pengusaha Logistik Keberan Aturan Pajak E-Commerce yang Dirilis Pemerintah

Pemerintah Australia dan Selandia Baru juga melarang Huawei membangun terknologi terbarunya berupa jaringan nirkabel 5G di negara tersebut.

Eropa juga mengeluarkan larangan yang sama. Padahal, wilayah ini merupakan pasar luar negeri terbesar bagi Huawei. Oleh karena itu, larangan ini diprediksi dapat menimbulkan gejolak keuangan yang signifikan bagi perusahaan tersebut.

Baca: Hidayat Nur Wahid: Nggak Ada Untungnya Pasang Foto Gatot Nurmantyo di Baliho Prabowo-Sandi

Pada 2017, Huawei memperoleh pendapatan sebesar US$ 24,2 juta dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Angka itu setara dengan 27,1% dari total pendapatannya dan melebihi pendapatan gabungan dari Amerika dan Asia Pasifik.

Tidak berhenti sampai di situ, awal Desember 2018, kepala agen mata-mata Inggris Alex Younger juga mengingatkan risiko keamanan dari teknologi Huawei dalam infrastruktur teknologi Inggris.

Perusahaan operator ponsel terbesar di Inggris, BT juga menyatakan akan berhenti menggunakan peralatan Huawei dalam jaringan 3G, 4G, dan 5G-nya.

Prancis juga merilis bahwa negaranya tidak akan menggunakan Huawei untuk membangun jaringan 5G. Begitu juga Norwegia dan Swedia yang sedang menyelidiki teknologi Huawei.

Badan Siber dan Keamanan Informasi Republik Ceko, pada Desember 2018 lalu juga mengingatkan bahwa perangkat keras dan perangkat lunak Huawei menjadi ancaman bagi keamanan negaranya. Beberapa hari berikutnya, Perdana Menteri Republik Ceko Andrej Babiš memerintahkan kantor pemerintah untuk berhenti menggunakan ponsel Huawei.

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved