Emas Dprediksi Makin Menggiurkan untuk Instrumen Investasi

“Naiknya emas dan turunnya dollar AS malah harus dimanfaatkan untuk membeli dollar AS sebelum posisinya menguat lagi,” ujar Ibrahim.

Emas Dprediksi Makin Menggiurkan untuk Instrumen Investasi
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pengunjung melihat-lihat emas batangan sebelum memutuskan untuk membeli di Butik Emas Logam Mulia Antam, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Jumat (7/9/2018). Minat masyarakat untuk berinvestasi emas batangan meningkat saat rupiah melemah karena pilihan investasi ini aman dan nilainya cenderung stabil. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau emas Antam saat ini Rp 657.000 per gram. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Laporan Reporter Kontan, Amalia Fitri

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Kenaikan harga emas dunia diprediksi akan berlanjut sampai pekan depan sejalan dengan kebuntuan kondisi politik dalam dan luar negeri Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan pasar spot Jumat (25/1) lalu, harga emas terpantau berada di level US$ 1,289 per ons troi. Angka tersebut naik sebesar 0,27% dari perdagangan sebelumnya di level US$ 1,284 per ons troi.

Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, langkah AS membuka ketegangan baru dengan Venezuela terkait posisi kepemimpinan Moduro, membuat investor ramai beralih ke investasi safe haven, yakni emas.

“Kekhawatiran itulah yang jadi alasan utama kenaikan harga emas dunia saat ini,” ujarnya, Minggu (27/1/2019).

Tak berhenti di sana, pelaku pasar juga tak bisa menjamin bila kesepakatan damai akan tercapai pada pertemuan dagang AS dan China yang akan berlangsung pada Rabu dan Kamis pekan depan.

“Kisruh politik AS bertambah panas, sebab di kasus Venezuela, China dan Rusia terang-terangan ambil posisi berseberangan dengan AS,” tambah Ibrahim.

Baca: Oxfam: Pajak Bikin Kesenjangan Kaya-Miskin Makin Lebar

Sementara di dalam negeri, AS juga masih terbelit Government Shutdown yang sudah memasuki pekan ketiga.

Belum adanya kesepakatan antara Presiden AS, Donald Trump dengan Parlemen yang dipimpin oleh Nancy Pelosi terkait pembiayaan pembangunan dinding perbatasan, membuat dollar AS bergerak tak stabil di awal tahun 2019.

Alasan berikutnya adalah ketidakpastian hasil dari Brexit di Inggris. Setelah Uni Eropa menolak opsi nego dari Theresa May, partai Buruh Inggris mengusulkan untuk melakukan referendum melalui pemilu.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved