6.800 Ton Beras Bulog di Sumatra Selatan Tak Layak Konsumsi

Perum Bulog harus menanggung kerugian akibat turunnya kualitas beras di sejumlah gudang milik perusahaan pelat merah tersebut.

6.800 Ton Beras Bulog di Sumatra Selatan Tak Layak Konsumsi
Kementan
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perum Bulog harus menanggung kerugian akibat turunnya kualitas beras di sejumlah gudang milik perusahaan pelat merah tersebut.

Saat ini, Bulog telah melakukan proses sortasi dan pemisahan beras yang ada di Gudang Bulog di Ogan Komering Ulu Timur, Sumatra Selatan dan Babel sebanyak 6.800 ton karena penurunan kualitas atau tak layak konsumsi.

Sekretaris Perum Bulog Arjun Ansol Siregar mengatakan, beras turun mutu yang terdapat di Bulog Divre Sumsel dan Babel adalah beras yang tidak untuk disalurkan. Beras tersebut merupakan hasil pengadaan dalam negeri yang berusia lebih dari satu tahun. Namun beras tersebut tidak tersalurkan karena tinginya stok beras di pasar.

Menurutnya, proses sortasi dilakukan untuk memisahkan beras yang masih aman konsumsi dengan beras yang tidak aman konsumsi dengan terlebih dahulu dilakukan pengecekan di laboratorium bersertifikat.

"Hasil laboratorium menjadi penentu langkah selanjutnya, untuk beras dengan kualitas berada di bawah ambang batas keamanan pangan akan dijual sebagai bahan pakan ternak. Sedangkan beras yang tidak bisa untuk bahan pakan ternak akan dilakukan pemusnahan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kontan.co.id, Rabu (13/2).

Baca: Ani Yudhoyono Divonis Sakit Kanker Darah, Inilah 5 Tanda Penyakit Itu yang Bisa Dikenali

Penugasan Perum Bulog untuk melakukan pembelian gabah/beras dalam negeri mengacu kepada Inpres nomor 5 tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah/beras dan penyaluran beras oleh pemerintah.

Menurutnya hal ini terjadi karena pengadaan yang cukup besar dan tidak diimbangi dengan penyaluran, mengakibatkan terjadinya penumpukan stok beras di gudang Bulog.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang terus mengurangi pagu Rastra (Bansos Rastra) setiap tahun secara bertahap ke bantuan pangan non tunai yang tidak mewajibkan komoditasnya (beras) berasal dari Bulog, ikut mempengaruhi perputaran barang Bulog.

“Pagu Rastra di provinsi Sumsel di tahun 2017 sebanyak 68.000 ton, mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi sebanyak 44.000 ton, dan di tahun 2019, pagu Bansos Rastra untuk bulan Januari dan Februari menjadi sebanyak 5.400 ton. Hal ini tentu mempengaruhi manajemen stok di Bulog," terang Arjun.

Beras merupakan komoditas yang mudah rusak (perishable), karena dalam setiap butiran terdapat unsur-unsur kimia yang dapat mengalami perubahan fisiologis. Beras dengan kualitas baik dan dirawat dengan baik, tetap memiliki batas usia penyimpanan, karena hingga saat ini belum ada teknologi perawatan yang bisa menghentikan perubahan fisiologis beras.

Perawatan beras yang dilakukan saat ini berfungsi memperlambat penurunan mutu beras. “Kami tetap pastikan, beras yang kami distribusikan kepada masyarakat merupakan beras yang layak dikonsumsi,” tutup Arjun.

Berita Ini Sudah Dipublikasikan di KONTAN, dengan judul: Sebanyak 6.800 ton beras Bulog di Sumatra Selatan tak layak konsumsi

Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved