BKPM: Tidak Mudah Tarik Investasi Masuk di Tahun Politik

Thomas Lembong mengatakan, investasi melambat ketika menjelang pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2019.

BKPM: Tidak Mudah Tarik Investasi Masuk di Tahun Politik
Apfia Tioconny Billy
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong 

Laporan Reporter Kontan, Mochammad Fauzan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyadari laju investasi dalam negeri akan terhambat oleh tahun politik. Karena itu, BPKM harus bekerja ekstra keras untuk menumbuhkan investasi pada tahun politik ini.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong menuturkan, siklus politik akan mempengaruhi investasi di dalam negeri.

Menurutnya, investasi di Indonesia mengalmai banyak gangguan dan tekanan yang telah terakumulasi dari tahun lalu dan harus segera cepat ditangani begitu pesta demokrasi usai.

Lembong mengatakan, investasi melambat ketika menjelang pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2019.

Meskipun demikian, investasi mulai akan tumbuh dengan pesat setelah pemilu berakhir. “Siklus politik, setiap tahun sebelum pemilu ada perlambatan, setelah pemilu baru ada recovery.” Ujar Lembong, Rabu, (13/2/2019).

Lembong menjelaskan, kondisi perekonomian pada tahun lalu membuat penanaman modal asing (PMA) di dalam negeri turun terkoreksi lebih dari 10%. Meskipun demikian, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mengalami peningkatan sebesar hampir 20%.

“Kalau nggak diberesin bisa meledak di sekitar 2020 atau 2021.” Ujar Lembong, Rabu, (13/2/2019).

Lembong menilai, dirinya sangat khawatir soal kondisi perekonomian di 2020 mendatang, ditambah dengan akan datangnya pemilu 2019 makin banyak pekerjaan rumah yang belum rampung. meskipun saat ini banyak terobosan dan kebijakan untuk ekonomi yang belum keluar.

Baca: Ditjen Pajak Keberatan Tudingan PPN Jadi Biang Mahalnya Harga Avtur Pertamina

Namun, menurutnya akan segera diluncurkan terobosan tersebut usai pemilu dan diyakini ampuh untuk membuat perekonomian dan investasi menjadi tumbuh lebih baik.

Lembong sangat optimistis sebab dinilai secara historik tren pemulihan ekonomi menunjukan ketika periode setelah pemilu.

Baca: Fintech Ilegal dari China dan Rusia Terdeteksi Beroperasi di Indonesia

“Banyak terobosan yang takut keluar karena takut digoreng secara politik.” Ucap Lembong.

Lembong menambahkan, meskipun demikian ketika pemilu berakhir masih akan menyisakan pekerjaan rumah di dalam perekonomian, sebab banyak distorsi tekanan yang terakumulasi.

“Sektor yang prospektif di tahun 2019 dan 2020 dalam dialog pembuatan kebijakan, kita sangat terobsesi pada manufaktur dan perdagangan barang.”

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved