Pilpres 2019

Sandiaga: Penurunan Harga Tiket Pesawat Belum Berdampak Signifikan

Pemerintah seharusnya terus mencari solusi agar persoalan harga tiket yang tinggi dan biaya bagasi tidak membuat UKM di sektor pariwisata menjadi lesu

Sandiaga: Penurunan Harga Tiket Pesawat Belum Berdampak Signifikan
IST
Cawapres Sandiaga Uno dan AHY melakukan kegiatan lari bersama dari kediaman masing-masing ke lapangan basket Bulungan, sebelum bermain bola basket bersama di Lapangan Basket Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (17/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon Wakil Presien Sandiaga Uno mengaku mendapatkan keluhan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) di daerah khususnya di bidang pariwisata, akibat masih mahalnya tiket pesawat dan beban biaya bagasi.

Sandiaga Uno menegaskan, pemerintah seharusnya terus mencari solusi agar persoalan harga tiket yang tinggi dan biaya bagasi tidak membuat UKM di sektor pariwisata menjadi lesu.

"Mungkin harus ada insentif khususnya barang bawaan karena yang dikeluhkan itu lebih kepada biaya pada barang bawaan bagi wisatawan itu yang di keluhkan para UKM UKM," kata Sandiaga kepada Tribunnews, Sabtu, (16/3/2019).

Karena menurut Sandi dampak dari lesunya pariwisata cukup besar. Sektor pariwisata selama ini menyumbang lapangan pekerjaan yang tidak sedikit. Apalagi saat ini pemerintah sedang giat giatnya menggenjot datangnya wisatawan.

"Kalau Pariwisata terpukul multipalyer efectnya besar sekali, banyak lapangan kerja yang bersinggungan dengan pariwisata," katanya.

Menurut Sandi, penurunan harga tiket oleh maskapai penerbangan saat ini belum terlalu signifikan dalam memulihkan sektor pariwisata, termasuk penurunan tiket garuda sebesar 20 persen.

Baca: Banyak Kemeriahan di Ultah Keempat Komunitas Vios Limo Owner Community Tangerang Raya

Menurut Sandi, pemerintah harus mencari solusi secara komprehensif terkait naiknya tiket pesawat tersebut.

"Saya ingin kebijakan tidak seperti tensoplas, luka langsung tambal, tapi cari akar permasalahannya. Kalau masalah avtur yang tinggi, ya cari caranya biar avtur itu kompetitif. Saya pernah investasi di bidang penerbangan dan gagal total, karena salah menghitung. Setahu saya cost tertitnggi dari penerbangan adalah biaya bahan bakar," katanya.

Bila bahan bakar sudah sangat efisien, namun cost tetap tinggi, maka harus ada insentif dari pemerintah.

"Kalau misalnya sulit dari bahan bakar, maka cari cara lain dengan mengeluarkan kebijakan insentif karena dapat mendorong berbagai sektor salah satunya pariwisata," tegasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved