Tingginya Harga Tiket Pesawat Diduga karena Faktor Inefisiensi

Untuk meningkatkan efisiensi, hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong maskapai untuk membuka jalur penerbangan internasional.

Tingginya Harga Tiket Pesawat Diduga karena Faktor Inefisiensi
videoblocks.com
Ilustrasi pesawat 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Alvin Lie menduga, penyebab tingginya harga tiket pesawat adalah inefiensi di tubuh maskapai. Misal, karena jumlah pesawat terlalu banyak dan utilitasnya rendah.

“Pada umumnya di bawah 10 jam, itu kan tidak efisien. Yang efisien, dari jumlah pesawat, terbang sedikitnya 12 kali sehari. Nah, kalau memang tidak efisien, ya kurangi jumlah pesawatnya,” kata Alvin kepada media di Jakarta, baru-baru ini.

Komponen pengadaan pesawat, jelas Alvin, memang sangat tinggi. Pasalnya, seluruh biaya sewa pesawat mempergunakan mata uang Euro atau Dolar AS.

Baca: Diguyur Hujan Lebat, Jalan di Kampung Cileuleuy Sukabumi Ambles dan Jembatan Terputus

Baca: Batal atau Tidak Merokok saat Puasa? Ini Hukumnya

Baca: Bruno Matos Cetak Gol Spektakuler Mirip Ronaldinho pada Piala AFC 2019

“Maskapai ini kan pesawatnya sewa semua. Nilai tukar rupiah terhadap Dolar sejak 2016 sudah turun. Ketika tarif batas atas (TBA) ditetapkan pada 2016 lalu, asumsinya kurs Dolar adalah Rp12 ribu, sekarang Rp14 ribu,” lanjut Alvin yang juga pengamat penerbangan.

Itulah sebabnya, Alvin tidak setuju jika Avtur selalu menjadi kambing hitam atas tingginya harga tiket pesawat.

Apalagi, masih ada komponen lain yang juga berpengaruh terhadap penentuan harga tiket, seperti biaya bandara yang sejak 2016 juga sudah beberapa kali mengalami kenaikan.

Jika benar memang tidak efisien, menurut Alvin, Pemerintah juga berhak memberikan teguran. Sebut saja kepada maskapai yang melakukan pengadaan pesawat baru lagi, kecuali untuk peremajaan.

“Misal, pesawat yang sudah berusia delapan tahun diremajakan dengan mendatangkan yang usianya 0 tahun, itu oke saja,” kata dia.

Untuk meningkatkan efisiensi, hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong maskapai untuk membuka jalur penerbangan internasional.

Jadi tidak seperti sekarang, ketika airlines hanya bermain di tingkat domestik. Kalau pun membuka jalur internasional, hanya sebatas Singapura dan Kuala Lumpur, meski sebenarnya kesempatan resiprokal dengan banyak negara, menurut Alvin sangat terbuka.

“Lihat saja maskapai Qatar terbang ke Indonesia, mengapa Indonesia tidak? Hal-hal seperti itu yang perlu kita kembangkan, jangan hanya sibuk bermain di dalam negeri,” tegasnya.

Sementara terkait seringnya Avtur menjadi kambing hitam atas tingginya harga tiket pesawat, Alvin melihat sebagai justifikasi terhadap masuknya swasta untuk pasar Avtur domestik.

Hal ini terlihat, karena setiap kali menyebut Avtur sebagai penyebab tingginya harga tiket pesawat, selalu dibarengi dengan pernyataan mengenai perlunya pemain baru.

“Saya menduga ujung-ujungnya ada pemain baru yang mau masuk. Jadi maunya masuk hanya di Soekarno hatta. Padahal konsumsi avtur di Soekarno Hatta adalah 60% dari dari konsumsi Avtur di Indonesia,” kata dia. (*)

Penulis: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved