Diskon Ojek Online Rugikan Driver, Syarkawi Ingatkan Kasus Monopoli Grab di Singapura dan Filipina

Syarkawi Rauf menekankan praktik promo atau diskon tarif ojek online merugikan mitra pengemudi lantaran

Diskon Ojek Online Rugikan Driver, Syarkawi Ingatkan Kasus Monopoli Grab di Singapura dan Filipina
Alex Suban/Alex Suban
Pengemudi transportasi online bersiap membawa penumpang di halte khusus penjemputan transportasi online di basemen Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (6/12/2018). Di tempat itu terdapat gerai Go-Jek dan Grab sebagai titik pertemuan antara pelanggan dan pengemudi dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara para ojol yang membeli pesanan makanan di mal itu, juga dapat memarkirkan motornya di halte ini. (Warta Kota/Alex Suban) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri Institute for Competition and Policy Analysis (ICPA) Syarkawi Rauf menekankan praktik promo atau diskon tarif ojek online merugikan mitra pengemudi lantaran hilangnya posisi tawa terhadap aplikator.

Maka itu, Syarkawai yang juga mantan Ketua Komisioner KPPU Periode 2015-2018 mendukung langkah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatur promo untuk menghindari praktik jual rugi (predatory pricing).

“Promo tidak wajar tujuannya cuma satu yaitu menghancurkan kompetisi dan mengarah pada monopoli. Ini akhirnya yang rugi mitra pengemudi dan konsumen,” katanya dalam keterangan tertulis.

Syarkawi menambahkan, hilangnya posisi tawar mitra pengemudi akibat cuma ada satu pemain dominan di pasar sudah terjadi di Singapura dan Filipina, saat Uber hengkang dari Asia Tenggara.

“Buktinya, komisi pengawas persaingan usaha kedua negara menjatuhkan sanksi kepada pemain yang mengakuisisi Uber,” tegas dia.

Buktinya, sambung Syarkawi,  KPPU Singapura atau Competition and Consumer Commission of Singapore (CCCS) menerima komplain dari mitra pengemudi Grab tentang kenaikan tingkat komisi yang diambil oleh aplikator dari penghasilan driver.

Menurut CCCS, Grab juga sempat mengurangi jumlah poin insentif yang didapatkan driver (lewat program GrabRewards Scheme) di bulan Juli 2018, dan meningkatkan syarat performa driver untuk mendapatkan poin tersebut.

Setelah monopoli, Grab juga ditemukan telah memberlakukan kewajiban esklusifitas (exclusivity obligations) kepada perusahaan
taksi, perusahaan sewa mobil dan mitra drivernya.

Temuan-temuan oleh CCCS ini berakhir pada denda lebih dari Rp 140 miliar yang harus dibayarkan oleh Grab.

Sedangkan di Filipiha, Philippine Competition Commission (PCC) juga menemukan sejak Grab menjadi pemain dominan di Filipina, perusahaan tersebut gagal menjaga persaingan sehat pada harga, promosi pelanggan, insentif driver, dan kualitas layanan,
sehingga berakhir pada denda dari KPPU Filipina (PCC) sebesar Rp 4 miliar .

Halaman
12
Penulis: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved