Kamis, 2 Juli 2015
Tribunnews.com

Kangguru Ternyata Berasal dari Amerika

Kamis, 29 Juli 2010 05:35 WIB

Sebuah tim dari Universitas Muenster, Jerman, berhasil menghimpun silsilah keluarga hewan berkantung tersebut berdasarkan susunan DNA. Dalam sebuah tulisan di jurnal Biologi di Perpustakaan Ilmiah Publik (PLoS), peneliti menyatakan spesies hewan berkantung itu pindah dari Amerika ke Australia.

Berdasar penelitian disebutkan bahwa keluarga spesies yang ada di Australia sama dengan keluarga hewan sejenis tupai di Amerika Utara dan Selatan dan juga spesies sejenis lainnya di negara Asia termasuk di Indonesia dan Papua Nugini.

"Saya rasa ini menjadi bukti yang cukup kuat mengenai migrasi tunggal (kangguru) ke Australia. Tes DNA membuktikan mereka memiliki leluhur yang sama," kata Juergen Schmitz, salah seorang anggota tim.

Riset ini dilakukan dengan mencocokkan genom dari dua hewan berkantung, yaitu tupai buntut pendek abu-abu (monodelphis domestica) dari Amerika Selatan dan kanguru Australia (macropus eugenii). Para peneliti dari Muenster mencari elemen DNA yang disebut retroposon. Ini adalah bagian yang bisa disalin dan dimasukkan kembali ke dalam DNA secara acak dalam sejarah evolusi binatang.

Dua spesies membawa retroposon yang sama. Artinya, mereka termasuk dalam kategori ''gen yang meloncat'' yang bisa menyebar informasi genetis. Retroposon yang dimasukkan ke spesies lain memberikan petunjuk penting dalam rangkaian evolusi keluarga hewan berkantung.

Dengan metode ini diketahi bahwa tupai berkantung Amerika saat ini memang telah terpisah dari garis keluarga utama. Namun, dalam satu masa, sebuah spesies nenek moyang tupai berkantong di Amerika migrasi ke Australia dan menciptakan ragam keluarga hewan berkantung lainnya yang terdapat di sana sampai sekarang.

Sayangnya, waktu pasti mengenai kapan migrasi itu terjadi masih belum diketahui, karena analisis dari riset ini tidak menunjukkan kapan waktu evolusi ini dimasukan. "Mungkin sekitar 30-40 juta tahun lalu, tapi kami tidak bisa memastikannya karena gen yang melompat ini tidak bisa memberikan informasi waktu yang tepat," kata Schmitz.

Halaman12
Editor: Juang Naibaho
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas