Jumat, 19 Desember 2014
Tribunnews.com

Myanmar Harus Belajar dari Indonesia Soal Kerukunan Beragama

Senin, 13 Agustus 2012 17:28 WIB

Myanmar Harus Belajar dari Indonesia Soal Kerukunan Beragama
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Pengunjukrasa mencoret tembok Kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta Pusat, saat menggelar aksi peduli Muslim Rohingya, Kamis (9/8/2012).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid mengatakan, Myanmar harus belajar dari Indonesia.

Menurutnya, Myanmar harus belajar dari Indonesia untuk menciptakan kerukunan umat beragama, dan hidup berdampingan antar-agama.

"Saya kira Myanmar harus belajar dari Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Di sini pun ada minoritas agama Buddha, namun mereka mendapatkan perlakuan yang adil," ujarnya.

"Mereka (Umat Buddha) mendapatkan hak yang sama selayaknya penduduk mayoritas, bagian menjadi masyarakat Indonesia. Mereka bisa menjadi apa saja, dan bisa menduduki jabatan apa saja di Indonesia," tutur Hidayat kepada Tribun di Jakarta, Senin (13/8/2012).

Indonesia yang mampu menerapkan toleransi dan keadilan antarumat beragama, lanjutnya, harus menjadi modal sosial pemerintah dalam melakukan komunikasi yang elegan terhadap Myanmar.

"Supaya bisa memahami, bahwa beragama tidak berarti harus bermusuhan. Di Indonesia, Binneka bisa menjadi Tunggal Ika, dan harus kita perjuangkan terus menerus," imbuhnya.

Menurutnya, jika terjadi penindasan terhadap Umat Islam, tidak ada yang ada yang mengatakan itu terorisme terhadap Umat Islam. Namun, jika  ada perilaku segelintir Umat Islam yang bermasalah, langsung dianggap sebagai terorisme.

"Dunia harus mengoreksi perilaku yang tidak adil seperti itu. Karena, ketidakadilan seperti ini, bila diteruskan, tidak akan menghadirkan kedamaian, malah akan terus mengakibatkan kemarahan dan konflik," tutur Hidayat.

Hidayat juga meminta Umat Islam di Indonesia menjadi anarkis, dan menganggap agama lain sebagai musuh.

Sebagai langkah kongkrit, ungkapnya, PKS akan mengirimkan delegasi untuk menemui perwakilan Rohingya di Myanmar.

"Tanggal 22 Agustus kami akan berangkatkan delegasi. Ada enam anggota DPR dari PKS, dan dua dari rekan lain," cetusnya. (*)

BACA JUGA

Penulis: Mochamad Faizal Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Jakarta
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas