• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Tribunnews.com
BBC

Memperkenalkan kuliner Filipina ke dunia

Kamis, 13 September 2012 10:05 WIB
pinoy food

Koki seperti Rolando Laudico bereksperimen dengan resep tradisional untuk mempopulerkan masakan Filipina.

Di Thailand, India, Malaysia, Jepang, bahkan di setiap negara Asia selalu ada masakan yang terkenal dan mendapat pengakuan internasional.

Namun Filipina adalah pengecualian. Meski penduduk negeri Tagalog ini mencintai makanan mereka, hanya sedikit orang asing yang pernah mencicipi atau bahkan mendengar masakan khas negara ini seperti abobo, sinigang, lumpia dan pancit.

Situasi inilah yang ingin diubah oleh koki Rolando Laudico.

"Makanan Filipina sama kaya dan beragam seperti makanan Asia lainnya, bahkan lebih," katanya dengan yakin di restorannya yang trendi di jantung Fort Bonifacio, distrik bisnis baru di Manila.

Dengan rambut panjang dan seragamnya, Laudico adalah salah satu koki generasi baru yang bertekad memperkenalkan makanan Filipina ke audiens luas.

Ia bersama istrinya, Jackie, mengelola Bistro Filipino, sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Filipina dengan sentuhan modern.

pinoy food

Masakan Filipina kerap dinilai 'terlalu aneh'

"Citarasa masakan kami berdasar pada rasa tradisional Filipina dan kami terinspirasi. Kami berinovasi, kami menyajikan dengan gaya kami sendiri dan membuat makanan itu ramah di lidah orang asing," kata Laudico.

Ia sangat bangga dengan versi lumpianya yang dibuat dengan kelapa palem. Lumpia umumnya adalah kudapan atau jajanan, tetapi di restoran ini minyaknya dikurangi dan lumpia digulung dalam bentuk kerucut.

"Biasanya dimakan dengan cuka, tetapi kami mengubahnya menjadi cuka es sehingga jika anda menyantapnya di restoran, makanan ini lebih berkelas dan tidak berantakan," kata dia.

Menurut Laudico, alasan kenapa masakan Filipina kurang dihargai karena orang Filipina sendiri tidak mengharganya. Mereka memang menyukainya, tetapi tidak merasa orang lain akan menyukainya.

"Kami tidak punya kebanggaan pada makanan kami sendiri," jelasnya. "Selama ratusan tahun, ketika kami kedatangan tamu di rumah, kami meminta maaf dan mengatakan pada mereka, 'Maaf, saya hanya bisa menyajikan masakan Filipina.'

Masalah persepsi

pinoy food

Orang Filipina kurang menghargai makanan tradisional mereka, kata Laudico

Pasangan Laudico menghadapi tantangan berat dalam upaya mengubah persepsi masakan Filipina dari sekedar jajanan murah menjadi masakan yang penuh cita rasa dan kaya variasi.

"Ketika kami pertama membuka restoran enam tahun silam, bahkan teman-teman sesama koki terkejut karena kami memilih membuka restoran Filipina. Mereka mengatakan, 'Siapa yang akan membayar lebih dari 500 pesos (Rp 110 ribu untuk menyantap makanan Filipina?'"

Dan bukan cuma persepsi dari dalam negeri saja, masakan Filipina juga memiliki masalah pencitraan di luar negeri.

Kritik yang kerap didengar adalah terlalu berminyak, terlalu manis dan terlalu aneh.

Balut, misalnya, tampak seperti telur biasa dari luar tetapi begitu cangkangnya dipecahkan, anda akan melihat janin bebek utuh. Balut bukan makanan untuk yang penakut.

Lalu ada isaw, yaitu usus babi atau ayam yang ditusuk seperti sate dan ada pula betamax atau darah ayam beku berbentuk kotak yang tampak seperti kaset video tua.

Kesan pertama orang asing yang datang ke Filipina, makanan khas negara ini adalah hidangan siap saji. Restoran burger, pizza dan ayam goreng berada di setiap sudut jalan.

'Butuh waktu seumur hidup'

pinoy food

Salah satu kudapan khas yaitu sate usus ayam bernama isaw

Tetapi masakan Filipina juga memiliki banyak sekali tekstur dan rasa. Hal itulah yang ingin dipublikasikan oleh koki Gene Gonzalez.

"Yang unik tentang makanan Filipina adalah wajah yang sangat banyak," kata dia.

"Ada gaya etnis, ada gaya kolonial Spanyol, pengaruh Cina dan Melayu, ada gaya kota dan bermacam-macam lagi.

"Kami memiliki 7.017 pulau dan setiap pulau punya keunikan sendiri sendiri. Akan butuh waktu seumur hidup untuk mempelajari semua masakan."

Gonzalez memiliki sebuah restoran bernama Cafe Ysabel yang terletak di sebuah rumah era kolonial di pusat kota Manila.

Sebagian besar makanannya terdiri dari pasta dan pizza, tetapi ada juga pilihan tradisional yang dimasak dengan gaya kolonial Spanyol.

Bukan hanya melalui restoran, Gonzalez juga mengajarkan gaya ini di sekolah memasak yang dikelolanya.

"Orang Filipina dikenal sebagai koki global, dan kami menciptakan koki global di skolah ini. Bagian kurikulum kami adalah mengajarkan orang Filipina bagaimana memasak masakan Filipina dan hal ini sangat penting untuk kami lakukan," kata dia.

Sumber: BBC Indonesia
BBC
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas