• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribunnews.com

KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto)

Senin, 15 Oktober 2012 19:33 WIB
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto_1.jpg
UNIFIL
Situasi ruang Pusat Informasi Tempur (PIT) KRI Sultan Hasanuddin-366 saat pelaksanaan latihan MTF Live Firing Gunnery Exercise, Jumat (12/10/2012).
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto2.jpg
UNIFIL
Prajurit KRI Sultan Hasanuddin-366 sedang menjatuhkan target sasaran tembak berupa Killer Tomatoes, Jumat (5/10/2012). Empat dari delapan target tersebut dibawa KRI Sultan Hasanuddin-366.
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto3.jpg
UNIFIL
KRI Sultan Hasanuddin – 366 sedang melaksanakan penembakan dengan menggunakan meriam 76 mm, Jumat (12/10/2012).
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto4.jpg
UNIFIL
Target Killer Tomatoes berhasil ditembak oleh meriam 76 KRI Sultan Hasanuddin – 366, Jumat (12/10/2012).
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto5.jpg
UNIFIL
Pelaksanaan penembakan oleh prajurit KRI Sultan Hasanuddin – 366 dengan meriam 20 mm, Jumat (12/10/2012).
KRI Sultan Hasanuddin 'Mengamuk' di Laut Mediterania (Foto) - foto_9.jpg
UNIFIL
Foto bersama MTF Commander Rear Admiral Wagnen Lopes de Moraes ZAMITH dengan peserta Pre Sail Gunnery Exercise di geladak hely BRS Liberal F-43, Kamis (11/10/2012).

TRIBUNNEWS.COM  - KRI Sultan Hasanuddin-366 “mengamuk”, bertubi-tubi tembakan dikeluarkan dari moncong meriam kaliber 76 mm dan 20 mm. Sesaat kemudian nampak di kejauhan sasaran permukaan laut hancur dan perlahan-lahan tenggelam. Sejenak kemudian terdengar dentuman-dentuman keras suara tembakan yang berasal dari meriam kapal perang lainnya.  Demikian rilis yang dikirim ke redaksi Tribunnews.com, Minggu (14/10/2012).

Air laut pun nampak semburat keatas menandai bahwa amonisi yang dipakai untuk menghancurkan sasaran itu adalah peluru tajam. Akhirnya delapan sasaran permukaan laut berwarna orange dapat dihancurkan. Demikian sekilas gambaran mengenai MTF Live Firing Gunnery Exercise yang dilaksanakan oleh enam unsur Maritime Task Force United Nations Interim Force In Lebanon (MTF/UNIFIL)  di area Barbara 2  Laut Mediterania, Jumat (12/10/2012).

Latihan Gabungan MTF-448 UNIFIL menggunakan sandi “Blue Hurricane”  sebutan angin topan yang biasa terjadi di daerah tropis, dengan sasaran target permukaan laut dan target udara (Surface and Anti Air Gunfire Exercise).  Unsur-unsur MTF yang terlibat terdiri dari tiga kapal Fregate dan tiga kapal patroli yaitu KRI Sultan Hasanuddin-366 (Indonesia), FGS Magdeburg F-261 (Jerman), BRS Liberal F-43 (Brasil), FGS Gepard P-6121(Jerman), BNS Madhumati P911 (Bangladesh) dan HS Kristallidis P-69 (Yunani). Sedangkan dari LAF Navy diikutsertakan beberapa perwira observer dan kadet yang onboard di KRI Sultan Hasanuddin-366, BRS Liberal  F-43 dan FGS Magdeburg F-261.

Latihan manuvra laut ini juga disaksikan oleh para petinggi LAF (Lebanon Armed Force) dan pejabat UNIFIL yang onboard di BRS Liberal F-43. Latihan ini bertujuan untuk mewujudkan dan meningkatkan inter operability antar unsur-unsur MTF-448 sekaligus menunjukkan kepada Staf UNIFIL dan LAF tingkat profesionalitas dan kesiapan unsur-unsur laut dalam mendukung United Nations Security Council Resolution (UNSCR) 1701.

Mengawali latihan terlebih dahulu dilaksanakan Identification and Surveilence Recognition (ISR) yang dilakukan oleh Helikopter BO 105 NV 414 yang onboard di KRI Sultan Hasanuddin-366 untuk melaksanakan pengamatan dan meyakinkan area latihan benar-benar aman dari lalu lintas laut.      Surface Gunfire Exercise dilaksanakan pada siang hari dengan sasaran target permukaan berupa delapan Killer Tomatoes. Peletakkan target Killer Tomatoes dilakukan oleh KRI Sultan Hasanuddin-366, FGS Magdeburg F-261 dan FGS Gepard P-6121 di area penembakkan Barbara (Laut Mediterranean).

           

Latihan Surface Gunfire ini dibagi dalam lima sesi, pada sesi pertama sampai dengan sesi keempat  penembakkan dilaksanakan oleh tiap-tiap unsur yang membentuk formasi garis lurus dengan jarak antar unsur 1000 yards. Sedangkan jarak tembak dari formasi bervariasi dari 1500 – 10.000 yards dengan menggunakan meriam 76 mm dan 20 mm secara bergantian.

Pada sesi kelima KRI Sultan Hasanuddin-366 melaksanakan manuvra taktis dengan kecepatan 25 knot sambil memuntahkan tembakkan dari meriam 76 mm kearah sasaran sejauh 9000 yards/4,5 nautical mile. Dua dari enam target Killer Tomatoes berhasil dihancurkan oleh meriam 76 mm. Setelah mendekati sasaran pada jarak 3000 yards, meriam 20 mm beraksi dengan memuntahkan amonisinya ke target. Satu target Killer Tomatoes berukuran 3 x 3 meter itupun dapat dihancurkan dengan mudah. Tidak semua target dihancurkan oleh KRI Sultan Hasanuddin-366  karena  tiga target lainnya untuk  latihan penembakan unsur yang lain.

Sedangkan Anti Air Gunfire Exercise dilaksanakan pada malam hari dengan menggunakan meriam 20 mm. Sasaran berupa flare ditembakkan dari BRS Liberal F-43, setelah flare menyala di udara, setiap unsur dapat menembak sasaran tersebut secara bergantian. Latihan penembakan pada malam hari tersebut berakhir pada pukul 21.00 local time dengan berjalan lancar dan aman.

Dalam latihan ini, KRI Sultan Hasanuddin-366 mendapat apresiasi yang tinggi dari para pejabat UNIFIL dan Lebanon Armed Force maupun dari sesama unsur MTF karena tingkat profesionalisme para prajuritnya sehingga dapat melaksanakan latihan manuvra taktis dan penembakkan secara tepat dan aman. Dengan adanya kegiatan latihan ini KRI Sultan Hasanuddin-366/TNI AL juga memberikan kesan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki Angkatan Laut yang profesional dan terlatih dengan baik dan sangat layak untuk mengemban misi-misi internasional dibawah bendera PBB.

Latihan ini diawali dengan Pre Sail Gunnery Exercixe Briefing yang dilaksanakan sehari sebelumnya di BRS Liberal F-43 yang dihadiri oleh MTF Commander Rear Admiral Wagnen  Lopes  de  Moraes  ZAMITH, Chief of Staff MTF Kolonel Laut (P) Dwi Sulaksono, para Deputy MTF dan  para Komandan Unsur-unsur  MTF yang terlibat latihan serta dari LAF Navy.  Dalam sambutannya, MTF Commander menekankan bahwa semua unsur harus mengutamakan keamanan latihan pada setiap sesi latihan. Selain itu setiap sesi latihan menjadi tanggung jawab penuh Komandan kapal dengan tetap mengacu pada standar prosedur dan  peraturan yang berlaku di negaranya masing-masing. Bravo Zulu.

INTERNASIONAL POPULER


Editor: Widiyabuana Slay
0 KOMENTAR
1035011 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas