Di Balik Organisasi Kejahatan Yakuza

Cengkeraman Kejahatan Yakuza Mulai Masuk ke Indonesia

Shinsuke Shimada, seorang artis TV terkenal Jepang dengan penghasilan sedikitnya dua miliar rupiah sebulan

Cengkeraman Kejahatan Yakuza Mulai Masuk ke Indonesia
IST
Tato perempuan yakuza.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Shinsuke Shimada, seorang artis TV terkenal Jepang dengan penghasilan sedikitnya dua miliar rupiah sebulan, pada 23 Agustus lalu, menggelar konferensi pers dan mengakui berteman dengan seorang anggota Yakuza, sindikat kejahatan Jepang sejak pertengahan 2005 hingga kini. Akibatnya pengakuan ini, dia langsung mengundurkan diri dari dunia artis dan kini sedang dalam pengusutan pihak kepolisian Jepang.

Aktor bernama asli Kimihiko Hasegawa ini tak bisa lagi berkelit setelah keterlibatannya dimuat dalam mingguan Shukan Bunshun. Pertengahan 2005 dia berkenalan dengan petinju Jiro Watanabe dan sejak itu dia dikenalkan kepada Hirofumi Hashimoto salah satu pimpinan Yakuza dari organisasi Yamaguchi-gumi, Yakuza terbesar dan paling berpengaruh di Jepang.

Dari seluruh sindikat kejahatan di Jepang, 22 kelompok besar, dengan total anggota sekitar 77,600 orang, 45 persen di antaranya adalah anggota kelompok Yamaguchi. Di dalam kelompok Yamaguchi pun ada sekitar 85 gang yang berafiliasi dengan Yamaguchi. Tiap gang tersebut memiliki pekerjaan berbeda, mulai chimpira (punk), penjahat terendah, tukang bikin ribut, pengompas (memaksa minta uang), sampai kepada urusan saham, mengganggu jalannya rapat umum pemegang saham (Sokaiya), ada pula yang berkecimpung di prostitusi, judi,  dan bahkan ada ada pula di tingkat atas, bersosialisasi dengan para pengusaha besar atau pejabat dan politisi tingkat tinggi.

Kebenaran kongkalikong Yakuza dengan para politisi dan pengusaha dibenarkan oleh mantan Duta Besar Inggris untuk Jepang (1980-1984), Hugh Cortazzi, “Bukti koneksi Yakuza dengan para politisi dan pengusaha terutama di sektor konstruksi dan properti memang tampaknya memiliki kebenaran.” (The evidence of yakuza connections with politicians and shady businessmen in the construction and property sectors does seem to have some substance.)

Dua kelompok sindikat kejahatan Jepang yang besar lainnya adalah Sumiyoshi dan Inagawa-kai. Ketiga kelompok besar ini saja sudah menguasai 73 persen populasi sindikat kejahatan Jepang. Meskipun demikian jumlah mereka itu belum termasuk sindikat kejahatan orang Cina dan orang Korea yang ada di Jepang. Sindikat kejahatan Cina dan Korea saat ini jauh lebih berani dan lebih kejam dalam melakukan aksi kejahatannya di Jepang.

Jumlah anggota sindikat kejahatan Jepang yang disebut Yakuza ini semakin lama semakin berkurang di masyarakat karena berbagai hal.  Antara lain karena meninggal akibat perang antar gang penjahat, memperebutkan wilayah kekuasaan atau karena balas dendam sesuatu hal. Juga faktor tertangkap polisi dan kini menjalani hukumannya di penjara. Tetapi ada pula yang pergi ke luar Jepang.  Karena semakin sulit mencari uang di dalam Jepang. Mengapa semakin sulit mencari uang di Jepang?

Ada dua hal yang membuat para anggota Yakuza ini tersingkirkan dari bisnisnya di Jepang. Pertama, karena memang perekonomian Jepang semakin buruk belakangan ini. Orang yang berbuat jahat semakin banyak sedangkan “kue” semakin sedikit.

Apalagi setelah bencana alam 11 Maret lalu, termasuk kebocoran radiasi di Reaktor Nuklir Fukushima, sehingga banyak pengusaha yang kesulitan mencari uang. Misalnya konsumen takut beli produk buatan daerah sana dan 30 kilometer radius dari Reaktor Nuklir itu, dicurigai tercemar radioaktif. Dari segi kesehatan juga tak baik, sehingga karyawan pabrik di sekitar kebocoran nuklir enggan masuk kerja dan pabrik pun tak bisa beroperasi.

Dampak bencana itu pun diantisipasi beberapa kalangan Yakuza dengan mencoba mendapatkan tender proyek sampah-sampah bencana yang sangat banyak menggunung tinggi akibat tsunami. Sampah ini diperebutkan antar kelompok Yakuza dan sindikat kejahatan China dengan mendekati warga setempat, termasuk mendekati para pejabat dan politisi agar mereka bisa memperoleh tender membersihkan kota dari sampah tsunami tersebut. Sampah tsunami itu akan dijual ke daratan China untuk didaur ulang dan dijadikan produk baru.

Halaman
123
Editor: Widiyabuana Slay
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help