Kamis, 27 November 2014
Tribunnews.com

Presiden Wanita Pertama Korsel dan Bayang-bayang Ayahnya

Kamis, 20 Desember 2012 19:02 WIB

Presiden Wanita Pertama Korsel dan Bayang-bayang Ayahnya
NET
Park Geun-hye

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL - Park Geun-hye, politisi dari Partai Saenuri Korea Selatan (Korsel), membuat sejarah dengan menjadi presiden perempuan pertama di Korsel.

Ia mengalahkan rivalnya, pengacara hak asasi manusia, Moon Jae-in. Wanita berusia 60 tahun mengikuti jejak ayahnya, almarhum Presiden Korsel Park Chung-hee, yang merebut kekuasaan dalam kudeta militer pada 1961.

Kemenangan Park berarti banyak bagi masyarakat Korsel, yang mayoritas berasal dari kalangan konservatif, dan masyarakat yang berorientasi pada laki-laki.

"Bagi kami, memiliki presiden perempuan saya pikir akan memiliki dampak signifikan pada jiwa rakyat. Ini akan menjadi dorongan besar bagi para wanita Korea Selatan," ujar Hahm Chaibong, Presiden Kebijakan Politik Institute Asan, seperti dilansir Aljazeera dan dikutip Tribunnews.com, Kamis (20/12/2012).

Park yang memiliki latar belakang insinyur, pertama kali meraih 'kedudukan' di dunia politik, ketika terpilih menjadi anggota Majelis Nasional Korsel pada 1998. Ia menjadi wakil rakyat selama lima periode.

Pada 2007, Park sempat mencoba mencalonkan diri menjadi calon presiden dari partainya, namun kalah pamor dari Lee Myung-bak. Lee kemudian maju sebagai calon presiden, dan berhasil meraih posisi tersebut.

Korban Pembunuhan

Park merupakan putri dari seorang almarhum Presiden Korsel Park Chung-hee, yang mewariskan Korea dalam keadaan terpecah belah.

Sejumlah pihak menudingnya sebagai seorang diktator yang mengabaikan hak asasi manusia, dan merepresi perbedaan pendapat. Sementara, pihak lain menganggapnya sebagai pahlawan yang membawa pembangunan ekonomi ke Korsel.

Park senior tewas dibunuh pada 1979, oleh kepala intelijennya sendiri. Lima tahun sebelumnya, istrinya, Yuk Young-soo juga dibunuh oleh seorang agen intelijen pro-Korea Utara, lantaran mencoba maju menjadi Presiden Korsel.

Park senior dihormati sebagai sosok yang membawa pembangunan ekonomi ke Korsel, namun ia juga dicerca oleh sejumlah kalangan atas pelanggaran HAM yang dilakukannya.

Banyak penduduk usia lanjut di Korsel, masih mengingat dengan baik dua dekade pemerintahan Park senior, dan bernostalgia melalui putrinya Park Geun-hye.

"Dia mencoba memberi isyarat kepada para pemilih yang lebih tua, bahwa dia serupa dengan sosok ayahnya. Di saat yang sama, ia mengatakan ia adalah sosok yang berbeda untuk meraih suara kaum muda," ucap Brian Myers, seorang akademisi dari Universitas Dongseo, Korsel. (*)

Penulis: Samuel Febrianto
Editor: Yaspen Martinus
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas