Selasa, 3 Maret 2015
Tribunnews.com

Sebenarnya, Agama Apa yang Dianut Warga di Jepang?

Kamis, 27 Desember 2012 13:16 WIB

Sebenarnya, Agama Apa yang Dianut Warga di Jepang?
TRIBUNNEWS.COM/RICHARD SUSILO
Suasana natal di sebuah sudut di Kota Tokyo, Jepang.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Apakah orang Jepang punya agama? Itulah pertanyaan yang sering kita dengar. Jawabannya, punya dan tidak. Mengapa? Menikah umumnya pakai kristen, diberkati di gereja, tetapi meninggal umumnya pakai Budha dan dibakar diperabukan. Demikian dilaporkan koresponden Tribunnews.com dari Tokyo, Jepang, Kamis (27/12/2012).

Lalu Shinto itu sendiri bagian dari kebudayaan Jepang dan sejenis aliran kepercayaan, bukan agama. Kalau di Indonesia ada yang disebut kejawen.

Mengapa saat Natal gereja di Jepang dipenuhi banyak orang Jepang? Satu kecenderungan menarik memang saat ini semakin banyak orang Jepang ke gereja meskipun mereka belum dipermandikan. Ada pula yang ikut-ikutan temannya ke gereja, pacarnya ke gereja dan sebagainya.

Latarbelakang mereka ke gereja karena orang Jepang berbasis perdamaian. Dengan kejadian bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, umumnya orang Jepang saat ini pencinta damai yang sangat kuat. Mereka merasakan kedamaian setelah berada di dalam gereja, ungkap Hiroshi Kumagai, seorang warga Okinawa saat berada di gereja Katolik di Yotsuya Tokyo.

“Suasana gereja yang tenang, penuh dengan doa-doa dan musik yang indah membuat jiwa saya terasa damai dan tenang. Mungkin inilah yang membuat orang Jepang senang ke gereja. Soal kepercayaan kepada Tuhan, kami rasa orang Jepang tahu dan mengerti ada sesuatu yang lebih tinggi dari manusia seperti julukan Tuhan bagi orang yang percaya dan   beragama. Namun yang terpenting adalah kita sendiri sebagai manusia agar bisa melaksanakan kehidupan ini dengan baik, damai, tidak menyusahkan orang lain. Apabila hal itu dijalankan dengan baik saya yakin dunia ini akan tenang tenteram dan damai, indah bagi kita semua,” paparnya lagi yang mengaku belum dpermandikan, hanya ke gereja karena merasa dirinya menjadi tenang, nyaman dan terasa damai.

Suasana natal di Jepang terutama di kota besar seperti Tokyo dimulai dengan pemasangan hiasan natal sejak awal November lalu. Terutama pohon natal akan hilang atau lenyap habis per tanggal 26 Desember. Inilah hal menarik di Jepang. Apabila di Inodonesia kita merayakan natal kedua tanggal 26 Desember, di Jepang semua pajangan natal terutama pohon natal, illumination natal, hanya sampai dengan 25 Desember . Lalu sehari kemudian semua langsung hilang dan berubah menjadi hiasan tahun baru.

Halaman1234
Editor: Widiyabuana Slay
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas