Jumat, 28 November 2014
Tribunnews.com

Jarak Pandang Tidak Lebih 200 Meter Akibat Polusi Udara di Cina

Senin, 4 Februari 2013 06:01 WIB

Jarak Pandang Tidak Lebih 200 Meter Akibat Polusi Udara di Cina
SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT
ILUSTRASI

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Dalam sepekan terakhir, polusi yang menyelimuti Beijing dan sekitarnya membuat bangunan tertutup kabut, dan orang tak bisa melihat lebih dari 200 meter di depan wajahnya.

Bahkan, buruknya polusi udara di Cina terlihat hingga luar angkasa. Maskapai telah membatalkan penerbangan karena minimnya visibilitas dan foto satelit yang menunjukkan asap begitu tebal, sehingga mengaburkan foto yang diambil dari luar angkasa.

Seperti dikutip Tribunnews.com dari Daily News, Minggu (3/2/2013), polusi udara di Cina telah mencapai tingkat partikulat berbahaya di udara yang tinggi pada Januari. Kondisi itu sudah melampaui pengukuran yang digunakan untuk memetakan kualitas udara.

Perhitungan partikel di Beijing yang dilakukan secara teratur, melebihi tingkat 500 pada indeks yang diakui secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tingkat harian tidak lebih dari 20 (dalam indeks yang mengukur partikel di udara dengan diameter 2,5 mikrometer).

Pada 12 Januari di Beijing, partikel melonjak menjadi 755, rekor tertinggi yang menempatkan polusi dalam kategori 'melampaui'.

Reuters melaporkan, industri yang tak teratur, kendaraan, dan bensin murah telah disalahkan atas polusi yang menyesakkan Cina.

Kualitas udara yang sudah sangat buruk, menghasilkan gelombang dari penyakit pernapasan, terutama di kalangan anak-anak dan orangtua.

Sebuah rumah sakit anak-anak di pusat kota Beijing telah mengobati 9.000 pasien pada bulan ini, kebanyakan flu, pneumonia (radang paru-paru, tracheitis, bronkitis, dan pasien asma.

Pihak berwenang di Beijing bertemu pada Selasa besok, untuk membahas bagaimana memerangi polusi udara.

Politisi memberlakukan penutupan beberapa bisnis berpolusi selama 48 jam, dan orang-orang diminta untuk menjauhi jalan-jalan. (*)

Penulis: Yaspen Martinus
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas