• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Tribunnews.com

Keberadaan Polisi di Jepang Tergantung Kelompok Yakuza?

Senin, 22 April 2013 23:08 WIB
Keberadaan Polisi di Jepang Tergantung Kelompok Yakuza?
IST
ILUSTRASI

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Penelusuran lebih lanjut mengenai kekuasaan Yakuza di Jepang ternyata banyak menghasilkan hal-hal menarik di dunia organisasi kejahatan terorganisir tersebut. Satu di antaranya ternyata polisi Jepang malahan tergantung kepada Yakuza, walaupun secara resmi pihak kepolisian tidak pernah mengakui demikian.

Hal ini terungkap dari hasil pertemuan antara David Kaplan dengan Kakuji Inagawa, Pendiri dan big boss kelompok Kakusei-kai yang berubah nama menjadi Inagawa-kai. Hasil pertemuan tahun itu dikutip Tribunnews.com, Senin (22/4/2013).

"Setiap akhir tahun secara pribadi saya mengunjungi kantor polisi untuk mengucapkan selamat tahun baru. saat ini setiap kali pula polisi menanyakan kepada saya, kapan akan membubarkan kelompok saya. Lalu tahun 1983 saya menekuni golf dan menarik sekali ada polisi yang mendoakan saya agar panjang umur. Polisi itu mengatakan bahwa saya adalah pemimpin Yakuza satu-satunya yang memimpin sistem Yakuza dengan baik dan menjaga perdamaian. Mereka ingin saya panjang umur, karena mereka tergantung kepada saya, papar polisi itu," demikian ungkap Inagawa tahun 1984.

Bisa dimaklumi apabila polisi Jepang demikian. Jumlah polisi Jepang saat ini sekitar 300.000 personil dengan jumlah penduduk sekitar 120 juta jiwa. Bisa dihitung satu polisi harus bertanggungjawab terhadap sekitar 400 orang Jepang, termasuk di dalamnya Yakuza.

Apabila para anggota Yakuza perang antar geng, atau menyusahkan dan membuat keributan di masyarakat, tugas polisi akan berat sekali. Jadi dengan perdamaian yang diciptakan Inagawa, polisi ikut terbantu.

Sekitar tahun 1985 selama kira-kira satu tahun lebih terjadi perang antar-geng sangat berdarah, antara Yamaguchi-gumi dengan Ichiwa-kai, yang berakhir dengan perdamaian. Inagawa lah yang menjadi penengah perdamaian tersebut. Inagawa saat itu mengendalikan 119 geng (kelompok) dan 12 bos Yakuza yang semua di dalam payung kelompok Inagawa-kai.

Dari jumlah anggota dan pimpinan Yakuza tahun 1990-an, Biro Federal Investigasi Amerika Setikat (FBI) sudah pernah  mengungkapkan bahwa 20 persen dari Yakuza adalah etnis Korea. Pejabat kepolisian Jepang pun sempat pula mengungkapkan bahwa dalam tubuh Yamaguchi-gumi tahun 1990-an, 10 persen di antaranya adalah etnis Korea. Kini tahun 2013 diperkirakan jauh lebih banyak lagi sekitar 20 persen seperti banyak dipaparkan banyak pengamat Yakuza Jepang seperti Mizoguchi dan Miyazaki.

Para pimpinan Yakuza lama, sampai dengan tahun 1980-an masih bisa terlibat terbuka di bidang politik. Misalnya tahun 1980 bos-bos Yamaguchi-gumi mencalonkan diri menjadi anggota parlemen Jepang, yaitu Ono dan Tsukuda. Mereka dalam kampanyenya di masyarakat berjanji akan menghentikan penyalahgunaan Narkoba di Jepang. Bahkan dengan terang-terangan menyatakan dirinya anggota Yamaguchi-gumi sebagai biksu yang mengikuti jalan kesatria bos yamaguchi-gumi, Taoka Kazuo.

Anggota Yakuza Oyabun (kepala geng) Sadaoka-gumi, Sadaoka Eiji (41,) di Jepang Selatan mendapat kursi sebagai anggota Dewan Kota yang ada di luar nagasaki. Berhasil mendapat suara terbanyak.

Setelah terpilih, lima hari kemudian ditangkap polisi karena terbukti melakukan lima kasus kejahatan, termasuk tuduhan pembunuhan yang dilakukannya.

Inilah karakter Yakuza jaman lalu sebelum tahun 1990, yang lebih mempertahankan Status Quo atau kebanggaan dan ke-elit-an mereka, sambil bermain politik, ketimbang soal uang.

Seorang Jaksa Penuntut senior di Tokyo pun pernah mengungkapkan bahwa Yakuza sering menjadi makelar politik, bahkan ketua juru kampanye di desa-desa banyak dari kalangan Yakuza, "Di belakang Nokyo (koperasi pertanian atau Japan Agriculture saat ini), terdapat perusahaan konstruksi yang sering diketuai oleh Yakuza. Petani tak bisa hidup hanya dari padi tetapi juga bekerja untuk koperasi dan perusahaan konstruksi. Kekuasaan Nokyo begitu besar mengendalikan ratusan suara. Tanpa restu mereka dan perusahaan konstruksi tersebut, para calon biasanya akan mengalami gangguan dalam kampanye mereka."

Hayashi Shotaro, bos ke-8 geng Doshida-gumi, afiliasi dengan Sumiyoshi-kai, juga pernah mengatakan kepada David tahun 1984, "Oyabun tidak bisa mengajarkan apapun kecuali aAnda belajar sendiri. Tradisi Yakuza tidak akan pernah mati karena kami berbeda dengan orang kebanyakan. Itulah alasan mengapa kami bergabung dalam dunia ini. Kami juga punya gagasan yang sama bahwa jika kami melakukan kesalahan besar, maka kami akan mati bersama."

Begitu solid dan elite-nya Yakuza lalu sampai dengan akhir tahun 1980-an. Tetapi generasp sebelumnya, sebelum 1950, karakternya berbeda pula dan jauh sangat nasionalis sehingga karakter Samurai Jepang masih sangat kental. Bahkan banyak yang ke arah ultra nasionalis. Sangat membenci komunis dan menentang orang asing, layaknya diskriminasi kepada orang asing. Fokus adalah pembelaan nasional dan juga pembelaan kepada Kaisar sampai berani mati sekali pun.

Generasi ketiga adalah setelah keluar UU Anti Yakuza tahun 1991, sampai dengan kini, karakter Yakuza jauh berbeda lagi, dengan fokus utama adalah uang, layaknya sebuah negara kapitalis.

Hayashi pun sudah bisa memprediksi akan  karakter yang bisa terjadi saat ini (2013) pada saat dia berbicara tahun 1984 itu.

"Yakuza memang jahat, tetapi dibutuhkan masyarakat Jepang. Di masa depan nanti tugas terbesar menjadi pebisnis. Yakuza harus menjadi orang bersih, membayar pajak. Masa keemasan tekiya (pedagang kaki lima) sudah berakhir, anda nanti harus melakukan semua dengan legal. Bisnis akan jadi cara utama untuk hidup. Selama bayar pajak, anda akan baik-baik saja."

Itulah pola pikir seorang bos Yakuza yang luar biasa bisa meramal 30 tahun di muka apa yang terjadi saat saat ini. Dan ternyata kenyataan saat ini, umumnya anggota Yakuza muda berorientasi penuh kepada bisnis, uang dan uang.

Info lengkap bisa dibaca www.yakuza.in

Editor: Widiyabuana Slay
0 KOMENTAR
1700702 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas