Senin, 25 Mei 2015
Tribunnews.com

Seniman Pembuat Tato Ternama Jepang Protes Undang-undang Anti-Yakuza

Rabu, 1 Mei 2013 18:04 WIB

Seniman Pembuat Tato Ternama Jepang Protes Undang-undang Anti-Yakuza
TRIBUNNEWS.COM/RICHARD SUSILO
Horiyoshi III alias Yoshihito Nakano, seniman ternama pembuat tato asal Jepang dan putranya (inzet).

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Undang Undang Anti-Yakuza yang biasa dijuluki Botaiho, sangat ditentang oleh seorang seniman ternama pembuat tato Jepang. Hal itu dianggap diskriminasi kepada warga Jepang dan sebaiknya UU demikian dihapuskan saja.

Demikian ungkap sang seniman tato,Horiyoshi III alias Yoshihito Nakano, kelahiran kota Shimada, Shizuoka, 9 Maret 1946, yang pernah menjadi anggota Yakuza satu setengah tahun pada saat usia sekitar 20 tahun di Shizuoka, saat diwawancarai khusus Tribunnews.com siang tadi (29/4/2013) di galerinya di Yokohama.

"UU tersebut jelas menyamaratakan semua manusia yang menjadi anggota Yakuza sebagai penjahat. Tidak boleh itu tidak boleh ini dan sebagainya. Padahal belum tentu semua jahat dan belum tentu melakukan kejahatan, bukan? Jadi dengan UU demikian jelas melakukan diskriminasi terhadap manusia. Saya menentang Botaiho," tekannya.

Menurutnya, dia tidak mengerti mengapa bisa sampai ke luar UU seperti itu yang jelas-jelas mendiskriminasikan manusia Jepang.

"Bayangkan, dengan Botaiho, orang tak bisa buka rekening koran, tak bisa menyewa apa pun, tak diterima di tempat umum, ini kan jelas melanggar hak asasi manusia. Padahal dia tidak berbuat jahat, tidak melakukan kriminalitas, apa mesti diperlakukan demikian?" ungkapnya lagi.

Kalau upaya mengurangi kejahatan memang dia setuju. Tetapi dengan membuat UU tersebut untuk organisasi Yakuza yang berarti semua anggota Yakuza disamaratakan dilakukan pelarangan sana sini dalam kehidupannya, hal itu jelas-jelas tidak disetujuinya.

Halaman123
Editor: Widiyabuana Slay
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas