• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

Wanita Inggris Bongkar Kekejaman Penjara Bali

Senin, 29 Juli 2013 08:59 WIB
Wanita Inggris Bongkar Kekejaman Penjara Bali - article-2380133-1B064A4A000005DC-682_306x423.jpg
AFP/Getty Images/Dailymail
Rachell Dougall, Warga Negara Inggris yang menceritakan kejamnya kehidupan di dalam LP KErobokan, Bali
Wanita Inggris Bongkar Kekejaman Penjara Bali - article-2380133-1B064A2A000005DC-669_634x475.jpg
Dailymail
Suasana LP Kerobokan Bali tempat dimana Rachel Dougall hidup di dalam sel, sungguh kotor dan memprihatinkan

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan mengejutkan datang dari Rachel Dougall(40) terpidana kasus penyelundupan kokain senilai 1,6 juta pound sterling atau sekitar Rp 25 miliar. Warga negara Inggris ini ditahan di LP Kerobokan, Bali, usai bebas pada 27 Juli 2013 kemarin, Rachel pun bercerita mengenai kehidupannya selama di L yang disebutnya sebagai hotel 'K' tersebut.

Meringkuk di lantai dengan alas tikar tipis di penjara Bali, Rachel juga bercerita tidak bisa berbuat banyak kecuali menutupi wajahnya saat seorang wanita teman satu sel kerap menyiksanya dengan tendangan dan pukulan. Pengakuan Rachel ini diceritakannya lewat Daily Mail.

Penyiksaan itu kata Rachel adalah yang pertama dari beberapa pemukulan biadab yang dialaminya di dalam LP yang menurutnya terkenal kotor.

Selama di dalam hotel prodeo Rachell juga mengalami gangguan mental setelah dikurung dengan pecandu narkoba, tahanan HIV-positif dan lesbian agresif secara seksual. Dia menderita kudis dan mengatakan hampir meninggal karena pneumonia, menghabiskan satu minggu di rumah sakit.

"Mungkin sulit untuk bersimpati dengan seorang wanita yang dituduh mencoba menyelundupkan 4,7 kilogram kokain dari Bangkok ke Bali - meskipun bahwa hukumannya adalah untuk biaya kecil gagal untuk melaporkan kejahatan," kata Rachell.

Selain membongkar praktik kekerasan di dalam LP, Rachel juga mengkritik pemerintahan Indonesia yang dinilainya sangat munafik. Hal itu dikatakan Rachel saat melihat sekelompok regu tembak menembak mati terpidana kasus narkoba, sementara zat seperti sabu dan kokain dapat digunakan bebas dalam sistem penjara.

“Sebagian besar perempuan di sana memakai obat-obatan hampir setiap hari. Jika Anda punya uang, penjaga akan memberikan apa pun yang Anda inginkan. Narapidana di penjara pria bahkan dapat membayar pelacur untuk kunjungan semalam ke selnya,” ujar Rachel.

Pengalaman pahit lainnya yang pernah dialami Rachel di dalam LP Kerobokan adalah saat dirinya dikejar-kejar oleh seorang lesbian agresif. Diminta berdandan kemudian menari telanjang.

"Sementara wanita lain tertawa dan mendorong-dorong tubuh saya. Aku merasa terhina," kata Rachel.

Kehidupan yang buruk dan tidak pernah diharapkan sebelumnya di dalam LP Kerobokan,membuat warga negara Inggris ini enggan kembali lagi ke Bali.

Pada awalnya, Rachel sangat mencintai Bali, namun usai ia hidup di dalam sel, rasa kerinduan untuk kembali ke pulau Dewata menjadi hilang.

Penulis: Willy Widianto
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas