• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Masih Misterius Kematian Mantan Bos Yakuza Jatuh dari Lantai 7

Kamis, 8 Agustus 2013 17:20 WIB
Masih Misterius Kematian Mantan Bos Yakuza Jatuh dari Lantai 7
JapanSubCulture
Takahiko Inoue.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Ini lagi satu contoh bos Yakuza (Kumicho) yang mundur dari kelompok Yakuza lalu menjadi pendeta Buddha. Membuat buku otobiografinya dalam bahasa Jepang berjudul "Kehidupan dan Masa Yakuza, Pergi ke Shura" yang dibuatnya tahun 1996. Tapi dirinya akhirnya meninggal jatuh dari lantai 7 dan sempat mengatakan "Tak apa-apa, bawa saja ke rumah sakit. Saya akan jalan ke mobil" kepada stafnya yang menemukan dan menolongnya di lantai satu. Tak lama kemudian pendeta Buddha tersebut meninggal.

Ini bukan cerita di film, tetapi kenyataan yang terjadi tanggal 10 Februari 2013, Takahiko Inoue, mantan Kepala Yakuza dari kelompok Inagawakai, meninggal dalam usia 65 tahun sebagai pendeta Buddha.

Sampai sekarang tak ada bukti dan tak ada yang tahu mengapa dia jatuh dari lantai tujuh rumahnya tersebut. Yang pasti orang Jepang percaya kalau seseorang membunuh pendeta Buddha pasti pembunuh itu akan jatuh ke neraka terdalam tak terselamatkan lagi pada akhir hayatnya. Jadi di Jepang tak ada yang berani membunuh pendeta Buddha. Jadi polisi sampai saat ini tidak melakukan penyelidikan dan menganggapnya jatuh dari lantai tujuh karena kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Inoue kelahiran Kumamoto tahun 1947 memang unik. Saat usia 20 tahunan dia ke Kanto (Tokyo dan sekitarnya) bekerja di pelabuhan dan bergabung dalam kelompok Yokosuka Ikka, salah satu kelompok yang berafilasi ke Inagawakai, kelompok Yakuza terbesar ketiga di Jepang.

Dia bekerja sebagai bodyguard pribadi bosnya, Susumu Ishii, kepala Yokosuka Ikka, dan Ishii menjadi generasi kedua pimpinan Inagawakai. Ishii sempat dijuluki sebagai Bapak Ekonomi Yakuza karena pintar bermain di bidang finansial.
 
Inoue sama seperti anak muda lain, cepat marah dan sempat masuk penjara karena pemerasan serta kekerasan dan berbagai kejahatan (tindak pidana). Nama panggilannya Oni no Inoue. Artinya, Si Setan Inoue.

Saat dipenjara, Inoue belajar mengenai Budha dan bahkan menjadi pendeta Buddha. Sekaligus juga menjadi Kepala Kelompok Inoue yang berafilasi ke Inagawakai.

Di dalam buku orobiografinya itu dia menuliskan, "Banyak tantangan sebagai anak muda tetapi kita harus bisa memberikan disiplin kepadanya."

Sebagai kepala yakuza yang membawahi 150 anggotanya, Inoue memang dianggap banyak orang sebagai Yakuza yang aneh. Peraturan kelompoknya yang dibuatnya, sebagai member kelompoknya dilarang menggunakan atau membeli narkoba. Dilarang mencuri, Dilarang merampok, Dilarang menyalahgunakan seks serta larangan segala sesuatu yang sangat memalukan dalam kemanusiaan (ninkyodo). Inilah dampak Kepala Yakuza yang juga merangkap sebagai Pendeta Budha. Satu orang tetapi dengan figur yang saling bertolak belakang.

Dia suka minuman keras dan suka judi. Tetapi sangat ketat dalam pengaturan narkoba. Tulisan dalam bukunya juga menyebutkan ada stafnya yang melanggar melakukan jual beli narkoba langsung dipecatnya dikeluarkan dari kelompoknya.

Kelompok yakuza yang dipimpinnya memang memberikan pinjaman lintah darat kepada yang masyarakat yang membutuhkan selama beberapa tahun. Tetapi untuk mikajimeryo atau uang proteksi akhirnya dia memerintahkan anak buahnya agar menghentikan praktek hal tersebut.

Akibat kebaikan Inoue tersebut, seorang pemilik bar mengomentari, "Inoue tidak pernah minta melebihi daripada yang kita miliki," tulisnya di buku tersebut.  Bahkan seorang polisi mengomentari, "Saya tidak mendukung Yakuza tetapi Inoue sama sekali tidak menimbulkan kesulitan pada kami. Dia tidak terlibat pada pemalsuan, penipuan, tidak terlibat pada narkoba, tidak terlibat pada pemerasan menggunakan kekerasan. Dia menjaga semua stafnya dalam koordinasi yang baik tidak menyusahkan kami. Tampaknya dia punya standar sendiri. Saya tak mengatakan dekat dengan Inoue tetapi dia pernah meminjamkan saya buku mengenai Budha dan minuman anggur yang baik," papar seorang polisi.

Inoue tampaknya dikenal sebagai pimpinan Yakuza yang justru mengikuti hukum yang ada. Membayar pajak dengan baik, menjadi pengusaha dengan baik, bahkan mengoperasionalkan restoran dan memiliki 10 bangunan, menghasilkan income yang baik dari bisnisnya. Dia pun mengikuti saran mantan bosnya, Ishii, "Jadilah Yakuza yang membayar pajak dengan baik."

Meskipun demikian Inoue sadar terjadinya perubahan Yakuza saat ini seperti ditulis di bukunya tersebut. Kesulitan Yakuza saat ini membuat diri mereka melirik Narkoba agar mendapatkan penghasilan besar. Bahkan akan melakukan perampokan agar dapat banyak uang.

Pastikanlah agar kelompok saya dijauhkan dari hal-hal kurang baik tersebut karena saya percaya ada karma yang akan membalas kepada kehidupan kita suatu waktu nanti.
 
Seperti tertulis pada buku YAKUZA INDONESIA terbitan Kompas, Juli 2013, inilah salah seorang anggota Yakuza bahkan satu satu bos Yakuza  termasuk 10 persen yang baik. menjadi pendeta Buddha sekaligus menjadi bos Yakuza. Filosofi Budha yang mengilhami kepemimpinannya sebagai bos Yakuza.

Tapi meninggalnya jatuh dari lantai tujuh mungkin juga bagian dari karma kehidupannya. Entahlah apa yang terjadi di dunia "after death" di sana. Menarik juga kita perhatikan bersama fenomena Yakuza ini.

Info lengkap Yakuza silakan klik www.yakuza.in

Editor: Widiyabuana Slay
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas