Indonesia Jadi Target Pasar Asean

Jika kondisi tersebut tak berubah, Indonesia bakal menjadi pangsa pasar bagi negara-negara Asean

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masalah kemandirian pangan di Indonesia saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan akibat ketergantungan pada impor. Jika kondisi tersebut tak berubah, Indonesia bakal menjadi pangsa pasar bagi negara-negara Asean.

Ketua Bidang Holtikultura DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Benny A. Kusbini menjelaskan pada 1 Januari 2016 pasar tunggal Asean sudah dibuka.

"Pasar tunggal Asean yang katanya tanpa batas. Orang Thailand dan Vietnam, saat ini sudah banyak belajar bahasa Indonesia. Kita mau sebagai pemain atau penonton?" cetus Benny dalam diskusi mengenai ketahanan pangan di Rumah Gagasan PAN, Rabu (2/10/2013).

Menurutnya jika hal itu terjadi pada saat ini, maka Indonesia hanya sebagai pangsa pasar bagi negara Asean lain.

"Sampai hari ini, pasar kita menjadi pasar mereka. Makanya saya lebih senang kalau produksi otomotif menurun, itu lebih bagus," tuturnya.

Benny mengatakan ketergantungan impor sangat terlihat dari jumlah produksi komoditi dalam negeri. Misalnya kebutuhan susu nasional sebanyak enam juta liter per hari, namun produksi dalam negeri hanya memproduksi sebesar dua juta liter per hari.

"Uni Soviet bubar karena krisis pangan. Apa elite kita sadar kalau ini ada strategi supaya Indonesia runtuh," tegasnya.

Sementara itu, Director of Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Purwiyatno Hariyadi, mengatakan kota-kota di Indonesia seharusnya menonjolkan komoditi yang menjadi andalan daerahnya. Ia mencontohkan negara-negara bagian Amerika Serikat yang menonjolkan komoditi andalannya.

"Idaho mengklaim sebagai tempatnya famous potatoes. Nebraska fokus di jagung. Tetapi disini, Malang sebagai kota apel, tak pernah juga mengembangkan apel," ucapnya.

Purwiyatno menyatakan masalah ketahanan pangan di Indonesia karena tak ada indikator pasti untuk bisa menyebut adanya ketersediaan, keterjangkauan, dan kecukupan pangan.

"Kita tak punya indikatornya. Apa indikatornya disebut ada ketersediaan, keterjangkauan, ketercukupan? Otoritas ketahanan pangan tidak punya, semua orang bisa bebas ngomong apa pun. Perlu dilakukan indikator, ini batasnya green line, yellow line, dan red zone," ujarnya.

Penulis: Danang Setiaji Prabowo
Editor: Willy Widianto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help