Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Anwar Ibrahim Malu Malaysia Diejek se-Dunia Gara-gara Dukun

Jumat, 14 Maret 2014 08:44 WIB

Anwar Ibrahim Malu Malaysia Diejek se-Dunia Gara-gara Dukun
Gettyimages
Dukun Malaysia 

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Pemimpin Oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, mengaku sangat malu dengan aksi tiga "bomoh" alias dukun dari Malaysia yang dipimpin Datuk Ibrahim Mat Zin yang melakukan praktik perdukunan mencari lokasi hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 yang mengangkut 239 penumpang.

Anwar Ibrahim seperti dikutip Themalayonline, Kamis (13/3/2014), mengatakan adegan para dukun itu melakukan ritual aneh di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) di hadapan media lokal dan internasional pada hari Senin lalu sungguh telah menjadi bahan ejekan dunia.

Anwar mengatakan cara pemerintah Malaysia menangani musibah jatuhnya pesawat berubah menjadi bahan tertawaan dunia.

"Semua laporan diterima kontradiktif dengan respons yang lambat. Kredibilitas dan citra kami telah hancur. Kami tidak hanya dikritik oleh NYT (New York Times) , tetapi para pemimpin ASEAN juga mengutuk kita. Seperti kejadian bomoh (dukun). Yang memberikan kesempatan mereka (melakukan ritual) perdukunan? Tak bisakah kau lihat betapa bodohnya kita dilihat di mata dunia?" kata Anwar.

Tiga dukun dipimpin oleh Ibrahim Mat Zin yang mengaku menjadi "raja bomoh" atau raja dukun melakukan ritual untuk "menemukan" hilangnya pesawat Malaysia Airlines Boeing 777. Aksi dukun itu dilakukan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) di hadapan media lokal dan internasional, Senin lalu.

Acara ini menjadi bahan ejekan langsung dari pengamat serta pengguna internet di situs media sosial seperti Twitter dan Facebook yang diperlihatkan dengan beberapa spoof gambar posting mereka duduk di atas karpet terbang.

Anwar mengatakan harus ada yang bertanggungjawab atas kasus yang mempermalukan Malaysia ini.

"Harus ada penyelidikan penuh atas acara ini karena kami telah dipermalukan dan menodai citra kami," katanya.
(aco)

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Dewi Agustina
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas