Pesawat Air France Keluarkan Penumpang Terduga Ebola

Otoritas Madrid mengevakuasi sebuah pesawat Air France, setelah seorang penumpang mulai gemetar di penerbangan ke ibu kota Spanyol itu.

Pesawat Air France Keluarkan Penumpang Terduga Ebola
Reuters
Sejumlah kendaraan dari unit layanan darurat terlihat di Bandara Internasional Barajas, Madrid, setelah seorang penumpang yang tiba dengan pesawat Air France diduga mengidap ebola. 

TRIBUNNEWS.COM, MADRID - Otoritas Madrid mengevakuasi sebuah pesawat Air France, Kamis (16/10/2014), setelah seorang penumpang mulai gemetar di penerbangan ke ibu kota Spanyol itu dari Lagos via Paris. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran bahwa orang itu mengidap ebola. Demikian kata pihak Air France dan operator Bandara Aena.

Penumpang itu dibawa ke Rumah Sakit Carlos III Madrid dalam sebuah ambulans yang diapit oleh iring-iringan polisi. Sopir ambulans mengenakan pakaian pelindung lengkap dan kacamata.

Sejumlah penumpang di bandara mengatakan, pesawat tersebut diparkir di landasan yang dikelilingi petugas layanan darurat dan orang-orang yang berpakaian pelindung warna putih. Air France mengatakan pesawat akan dibersihkan dengan pembasmi kuman dan penerbangan pulang pesawat itu dibatalkan.

"Ada sejumlah mobil polisi, ada ambulans... ada juga pemadam kebakaran dan orang-orang dengan pakaian warna putih," kata Bronween Bashford, seorang calon penumpang yang telah menunggu untuk naik ke pesawat itu di Madrid.

"Ada banyak kegiatan di landasan."

Pemerintah Spanyol telah meningkatkan responnya terhadap kasus-kasus terduga penyakit mematikan itu setelah seorang perawat di Madrid menjadi orang pertama di luar Afrika yang terinfeksi dalam wabah itu. Perawat tersebut, Teresa Romero, didiagnosa telah terpapar virus itu pekan lalu setelah merawat dua pastor yang terinfeksi yang dipulangkan dari Afrika Barat dan kemudian meninggal. Romero yang juga di Rumah Sakit Carlos III masih sakit parah tetapi stabil.

Kasus Romero telah memicu pertanyaan terkait apakah rumah sakit Spanyol siap untuk menghadapi sebuah krisis pada skala seperti ini dan menyerukan pengunduran diri Menteri Kesehatan Ana Mato.

Sejumlah petugas medis mengatakan, pelatihan dan pakaian pelindung yang diberikan kepada para staf rumah sakit tidak memadai. Pihak berwenang, Senin, berjanji untuk meningkatkan pelatihan.

Hari Kamis, pihak berwenang Spanyol mengatakan seorang yang termasuk di antara mereka dipantau karena punya gejala penyakit itu, setelah mereka berkontak dengan Romero, akan dikirim ke Rumah Sakit Carlos III setelah mengalami demam, salah satu gejala Ebola. Orang itu merupakan salah satu dari 68 orang dianggap memiliki risiko rendah terkena ebola. Mereka harus memeriksa suhu tubuh mereka secara teratur di rumah. Sebanyak 15 orang lain, termasuk suami Romero, masih dalam observasi di rumah sakit itu tetapi tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Hampir 4.500 orang telah tewas dalam wabah itu, hampir semua dari mereka di Afrika Barat, dari total 8.997 kasus yang terkonfirmasi, berstatus masih mungkin, dan yang diduga yang dilaporkan di tujuh negara.

Amerika Serikat, yang mengerahkan hingga 4.000 tentara ke Afrika Barat untuk membantu mencegah penyebaran penyakit ini, telah meminta Madrid izin untuk menggunakan pangkalan udara AS di Spanyol dalam operasinya, kata sebuah sumber Kementerian Pertahanan AS hari Kamis.

"Tak satu pun dari pesawat itu yang akan mengangkut pasien atau orang-orang yang diduga terjangkit ebola, atau yang telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi," katanya. "Spanyol akan punya hak untuk memeriksa pesawat dan penumpang."

Keputusan dijadwalkan akan diumumkan pada Jumat ini saat Menteri Pertahanan Spanyol, Pedro Morenes, bertemu Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, di Washington.

Amerika Serikat memiliki empat pangkalan di Spanyol, yaitu di Moron de la Frontera dekat Sevilla dan Rota dekat Cadiz di Spanyol selatan, serta Torrejon de Ardoz dekat Madrid dan Zaragoza di utara.

Editor: Dewi Agustina
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help