Zaitokukai Bukan Organisasi Mafia Jepang

Organisasi ini bisa dianggap pembela bangsa dan negara Jepang, nasionalis, garis kanan, tetapi bukanlah organisasi mafia Jepang atau Yakuza.

Zaitokukai Bukan Organisasi Mafia Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Makoto Sakurai di kantor Zaitokukai Akihabara Tokyo. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Organisasi ini bisa dianggap pembela bangsa dan negara Jepang, nasionalis, garis kanan, tetapi bukanlah organisasi mafia Jepang atau Yakuza. Pemberitaan yang menyebutkan bahwa Zaitokukai adalah Yakuza sama sekali tidak benar.

"Ngawur pemberitaan yang ada. Penulisnya bodoh sekali. Ketemu saya juga tidak pernah, ngarang yang macam-macam begitu. Zaitokukai bukan organisasi mafia Jepang. kalau kita Yakuza, tidak mungkin punya kantor kecil luar biasa ini, pasti punya banyak uang punya kantor yang bagus dan besar," papar Makoto Sakurai (42) khusus kepada Tribunnews.com, Rabu (12/11/2014) pagi di kantornya di Akihabara Tokyo.

Pemberitaan tentang Zaitokukai yang berdiri 2 Desember 2006, didirikan oleh Sakurai, akhir-akhir ini seru diberitakan pers Jepang. Terlebih setelah diskusi atau debat kerasnya dengan Wali Kota Osaka Toru Hashimoto dan berakhir Hashimoto meninggalkan debat sengit tersebut. Buku sang pemimpin Sakurai, Dai Kenkan Jidai (Era Korea Yang Tidak Menyenangkan) menjadi salah stau best seller di Jepang saat ini.

"Apakah kita kelihatan Yakuza? Kalau pun Yakuza mungkin kamu tidak akan mau datang ke sini wawancara ke markas Yakuza bukan?" tambahnya.

Seandainya Yakuza pun, kantor Zaitokukai tidak akan kecil seperti sekarang, pasti luas karena Yakuza memiliki banyak uang. Kantornya sekitar 15 meter persegi termasuk kamar kecil juga jadi satu. Seperti biasa, begitu datang copot sepatu di pintu masuk, lalu Tribunnews.com duduk di sofa coklat dan Sakurai duduk di tempat kerjanya menghadap komputernya. Ada foto pasangan Kaisar Jepang berdiri dan Permaisuri Michiko di sampingnya, di frame kaca ukuran A4 dan digantung di dinding kantor tersebut di atas meja kerja Sakurai.

Pemberitaan selama ini menuliskan Zaitokukai dekat dengan salah satu anggota organisasi Yakuza, Sumiyoshikai, terutama dekat dengan Nihonseinsha.

"Pemberitaan itu benar-benar ngawur, dari mana dapat data, ketemu penulisnya saja tak pernah tak tahu saya siapa dia yang bodoh begitu," tekannya lagi.

Dalam kesehariannya, Zaitokukai, menurutnya, hanya melakukan hal-hal yang wajar saja. Misalnya pemerintah memberikan subsidi kepada sebuah sekolah yang nyata-nyata milik Korea Utara.

"Itu Korea Utara kan negara teroris, pembunuh, punya sekolah di Tokyo sini, lalu sekolah itu disubsidi pemerintah Jepang, itu kan ngawur, benar-benar tidak masuk akal," tekannya.

Oleh karena itu Zaitokukai berjuang melawan hal-hal yang aneh seperti itu agar pemerintah Jepang lebih fokus memperhatikan rakyat Jepang nya sendiri, bukan malah keturunan Korea dan Tiongkok yang diperhatikan berlebihan dan sangat khusus selama ini.

"Apa-apaan tuh? Memang mereka orang khusus apa? Orang hebat apa? Kami juga bilang hal demikian kan wajar, itu kan bukan diskriminasi, kita hanya ingin membenarkan pemerintah Jepang yang sangat halus, hanya diam saja, bersabar saja selama ini, tak banyak bicara apa-apa padahal tak benar yang dilakukan pemerintah Jepang dan malah merugikan bangsa Jepang sendiri. Apa tak boleh kita muncul membela untuk bangsa ini dengan menyuarakan apa adanya? Eh malah dibilang kita melakukan diskriminasi dan sebagainya, kan aneh," katanya.

Sakurai mengakui sangat tidak berminat menjadi politisi apalagi pejabat pemerintah.

"Sama sekali tak terpikirkan jadi politisi atau pejabat. Saya hanya ingin meluruskan yang tidak benar saja khususnya terhadap keturunan Korea yang sangat diperlakukan khusus oleh pemerintah Jepang, buat apa tuh?" katanya.

Tags
Jepang
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help