400 Lansia Jepang Meninggal Akibat Kepanasan atau Radiasi Nuklir?

Pembangkit nuklir yang bermasalah hanya yang di Fukushima, lainnya baik-baik saja

400 Lansia Jepang Meninggal Akibat Kepanasan atau Radiasi Nuklir?
Tribunnews.com/Richard Susilo
Makoto Sakurai 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Organisasi nasionalis Jepang yang satu ini, Zaitokukai, bicara soal nuklir, karang (sango)  Jepang yang jadi harta kekayaan Jepang tetapi dicuri nelayan China baru-baru ini khusus kepada Tribunnews.com pagi ini (12/11/2014).

"Kami melihat banyak anggota masyarakat yang salah berpikirnya mengenai Nuklir. Mulai banyak yang menentang nuklir saat ini," papar Makoto Sakurai  kelahiran Fukuoka, 15 Februari 1972, mengenai gerakan anti nuklir di Jepang saat ini yang sering ber unjuk rasa di depan gedung parlemen Jepang di Nagatacho Tokyo terutama hari Jumat sore.

Menurutnya, pembangkit nuklir yang bermasalah hanya yang di Fukushima, lainnya baik-baik saja, "Coba lihat, gara-gara kerusakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) 11 Maret 2011 di Fukushima, energi Jepang berkurang sepertiganya dan banyak listrik dikurangi diirit di sana-sini, akibatnya banyak orang lanjut usia meninggal sekitar 400 orang dan tahun ini saja sekitar 100 orang meninggal akibat kepanasan, mencoba irit tak pakai AC (penyejuk) karena Jepang kekurangan enegri. Apa hal itu, kematian, diinginkan kita semua?"

Menurut Sakurai, Zaitokukai hanya ingin PLTN yang sudah ada dan yang berjalan ya biar saja berjalan. Kenyataan mulai dihentikan mulai dimatikan sedikit demi sedikit.

"Jepang kan tidak punya apa-apa, sumber energi seperti gas, minyak dan lainnya harus diimpor, jadi masih sangat tergantung dan butuh kepada Nuklir. Kalau PLTN dimatikan kan kacau negeri ini," tekannya.

Baginya, tentu saja bukan membangun PLTN baru, "Tetapi biarkanlah PLTN yang sudah ada berjalan apa adanya, diperiksa dicek dimonitor dengan baik, diperbaiki kalau ada kekurangan, karena Jepang memang butuh energi besar, bukan malah suruh dimatikan semua, ini kan aneh namanya. Jadi biarkanlah nuklir yang sudah ada berjalan dengan baik, agar Jepang tidak kekurangan energi. Kalau kekurangan energi ya muncul hal hal seperti itu banyak yang meninggal dunia akibat kepanasan misalnya."

Permintaannya itu dianggapnya biasa wajar saja. Olehkarena itu Zaitokukai menurutnya merasa aneh saja melihat orang yang berjuang keras untuk mematikan PLTN di Jepang.

Selain itu Sakurai juga menyentil soal pencurian ratusan Sango atau Karang jepang yang indah ada di dalam laut Jepang, banyak dicuri nelayan Jepang.

"Para penjaga laut Jepang sangat manis. Mengetahui ada pencuri Sango, tetapi ada taifun datang mereka malah merapat ke darat meneduh dulu, sementara pencuri di depan mata melakukan perampokan kekayaan laut Jepang didiamkan saja. Terus terang saya tidak  mengerti," tekannya.

Terlalu manis pemerintah dan pasukan penjaga laut Jepang saat ini. Sakurai ingin agar pemerintah Jepang mengambil sikap keras dan tegas terhadap pencuri kekayaan alam Jepang agar tidak terulang lagi hal-hal demikian.

"Coba Indonesia diobok-obok orang asing dicuri kekayaannya, kan juga tidak mau bukan, pasti marah bukan?" tanyanya kepada Tribunnews.com.

Olehkarena itu Sakurai menganggap hal-hal seperti itulah yang dianggapnya wajar sebagai tanggungjawab dirinya sebagai warga Jepang membela negara dengan cara demikian, bersuara kuat terhadap hal-hal yang tidak benar apalagi sampai terjadi perampokan oleh negara lain.

Zaitokukai saat ini memiliki 34 kantor cabang di jepang dari 7 perfektur yang ada di Jepang. Jumlah anggota lebih dari 15.000 orang itu semua sukarela bergabung dianggapnya sebagai warga  yang sangat peduli kepada kedaulatan bangs adan negaranya sendiri, cinta akan bangsa dan negaranya sendiri, ingin melindungi negaranya dari serangan atau gangguan bangsa lain khususnya keturunan Korea dan China yang sangat banyak sekali di Jepang.

Visa (Permanen) untuk hidup di Jepang yang ada pada orang China dan Korea pun sangat khusus, terlebih orang Korea, lain dengan Visa Permanen bangsa lain yang sudah lama tinggal di Jepang, "Hal-hal khusus inilah yang harus dihapuskan oleh pemerintah Jepang. Belum lagi bantuan khusus kehidupan kepada mereka, kan ini aneh," tekannya lagi.

Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help