BBC

Murid dan pengelola 'sekolah Gulen' di berbagai negara merasakan tekanan

Setelah upaya kudeta Juli lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menekan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk menutup sekolah-sekolah yang disebut terkait dengan Fethullah Gulen, sosok yang dituduh sebagai penggerak kudeta.

“Saya pikir sangat menyedihkan dan salah ketika mereka berpikir kami teroris, sebab kami bukan (teroris),” kata Chilla, seorang siswi SMA Kharisma Bangsa di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Sebagai murid SMA, konsentrasi Chilla selama ini adalah bagaimana mendapatkan nilai-nilai yang baik agar bisa melanjutkan ke fakultas kedokteran.

Namun, konsentrasi itu terpecah sejak akhir Juli lalu, ketika pemerintah Turki melalui kedutaannya di Jakarta menuding sekolah mereka terkait dengan ‘organisasi teroris’.

Dalam surat keterangan kepada pers, tertanggal 28 Juli 2016, Kedutaan Besar Turki di Jakarta menegaskan Kharisma Bangsa dan delapan sekolah lainnya di Indonesia harus ditutup karena memiliki keterkaitan dengan Fethullah Gulen, seorang ulama Turki yang dituduh menjadi dalang kudeta gagal pada 15 Juli lalu yang menewaskan lebih dari 270 orang meninggal dunia.

Sembilan sekolah tersebut, menurut Kedutaan Turki, adalah bagian dari jaringan luas dan rahasia yang digunakan gerakan Gulen untuk membangun kekuatan dan menyusupi berbagai institusi negara.

Tudingan serupa dialamatkan kepada sekolah-sekolah di puluhan negara, mulai dari Jerman hingga Afghanistan. Hal ini menyebabkan ribuan anak menghadapi ketidakpastian dalam pendidikan mereka.

Dalam surat keterangan kepada pers, tertanggal 28 Juli 2016, Kedutaan Besar Turki di Jakarta menegaskan Kharisma Bangsa dan delapan sekolah lainnya di Indonesia harus ditutup karena memiliki keterkaitan dengan Fethullah Gulen.

Para pendukung sekolah-sekolah itu mengatakan mereka merupakan institusi-institusi yang berafiliasi karena memiliki kesamaan nilai dan berkomitmen memajukan pengetahuan akademis.

Halaman
123456789
Sumber: BBC Indonesia
BBC
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help