BBC

Para capres Prancis berdebat panas soal pakaian renang Muslim, burkini

Reda al-Hamamy mengatakan anak laki-lakinya, yang ditembak oleh tentara di Paris, adalah "pemuda yang malang".

Dua calon terkuat pemilihan presiden Perancis saling menyerang dalam debat panas yang disiarkan televisi, khususnya tentang baju renang perempuan Muslim, burkini.

Calon garis tengah, Emmanuel Macron menyerang capres ekstrem kanan Marine Le Pen yang menyebut bahwa burkini adalah ancaman terhadap tradisi sekularisme Prancis. Menurut Macron, burkini hanyalah sekadar tata tertib berbusana di ruang publik.

Beberapa resor Perancis selatan melarang baju renang itu musim panas lalu sebelum pengadilan administratif tertinggi Perancis menyebut larangan itu melanggar kebebasan asasi.

Marine Le Pen mengatakan Perancis harus menentang multikulturalisme, tapi Macron menuduhnya memusuhi umat Islam di negeri itu.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan Le Pen akan mendapatkan suara terbanyak di putaran pertama, tapi di putaran dua akan dikalahkan oleh calon partai kanan-tengah Francois Fillon yang sedang dirundung berbagai masalah, atau Macron yang melejit sejak capres kanan tengah itu didera berbagai skandal.

Di pidato pembukaan debat itu, Macron mengatakan akan mengubah politik yang secara tradisional terpecah belah di prancis, sementara Marine Le Pen mengatakan dia ingin membuat Prancis bukan sebagai 'wilayah semu' Uni Eropa atau tunduk kepada Kanselir Jerman Angela Merkel dan bersumpah untuk menghentikan semua imigrasi ke negeri itu.

Adapun Francois Fillon mengatakan bahwa jika terpilih, ia akan menjadi presiden dari apa yang disebutnya 'pemulihan nasional.'

Berbeda dengan biasanya, kali ini juga terlibat dua politikus kiri dalam perdebatan: Benoit Hamon dan Jean-Luc Melenchon.

Emmanuel Macron yang melejit sejak Fillon didera berbagai skandal menyerang Marine Le Pen yang menyebut bahwa burkini adalah ancaman terhadap tradisi sekularisme Prancisd. Menurut Macron, burkini hanyalah sekadar tata tertib berbusana di ruang publik.

Halaman
12
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help