Daerah Prostitusi Nagoya Batam Dapat Sorotan Tajam Media Jepang

Selama Perang Dunia Kedua, ada sebuah teori di mana banyak bekas tentara Jepang yang ditempatkan di pulau-pulau di sekitar kawasan

Daerah Prostitusi Nagoya Batam Dapat Sorotan Tajam Media Jepang
Wartakepri
Daerah Prostitusi Nagoya Batam Dapat Sorotan Media Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pusat Batam adalah Lubuk baja tetapi banyak disebut daerah Nagoya dan daerah ini disebut dan mendapat sorotan khusus dari media Jepang sebagai daerah prostitusi di Batam yang melakukan perdagangan bebas.

"Selama Perang Dunia Kedua, ada sebuah teori di mana banyak bekas tentara Jepang yang ditempatkan di pulau-pulau di sekitar kawasan tersebut adalah daerah resimen Nagoya, Jepang. Dalam perkembangannya mulai tahun 1970-an, banyak perusahaan menyebut dengan kata Nagoya sehingga terkenal sampai sekarang. Ada kemungkinan itulah awal nama Nagoya di sana," tulis Tokyo Sports edisi Jumat ini (21/4/2017) mengisahkan kunjungan wartawannya soal Nagoya Batam.

Ketika melewati daerah ini sebagian besar adalah mucikari, dan mereka yang lewat sana banyak ditawari "membeli" PSK (pekerja seks komersial) yang ada.

"Beberapa ekspatriat yang dikelilingi supir taksi di depan pusat perbelanjaan besar dipermalukan dengan keras, ditawari Onna, Seks, serta kata O Mangkok (Red: Vagina wanita)."

Banyak perusahaan Jepang yang beroperasi di Batam berkembang pesat dan pulau Batam akhirnya populer dengan seks yang murah serta citra wanita PSK.

"Orang yang tinggal di Singapura juga menonjol di Batam selama akhir pekan saat berada di Batam melakukan perjalanan malam. Kalau ke Indonesia harga wanitanya kurang dari setengah ketimbang main (seks) di Singapura, baik di bar maupun penginapan yang ada," tulis berita itu lagi.

Ada juga ekspatriat dan pengusaha yang membuat istri lokal, serta maniak prostitusi di mana seorang pengusaha sendiri tidak bisa membiarkan mereka memonopoli. Muncul kekhawatiran tentang kemerosotan musim dingin pagi di "Nagoya".

Demikian berita yang dibuat Murohashi Hirokazu kelahiran tahun 1974 yang juga bekerja sebagai jurnalis mingguan Bunshun dan bertempat tinggal di Bangkok, Thailand selama 10 tahun.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help