Buah Dada Wanita Jepang Bagus Cantik dan Putih, Kata Orang Korowai

Suku bangsa Kurowai saat ini berjumlah sekitar 2900 orang dan sebagian kini sudah mulai ke luar ke masyarakat umum

Buah Dada Wanita Jepang Bagus Cantik dan Putih, Kata Orang Korowai
NTV
Wanita suku bangsa Korowai Papua dengan mengintip dan meremas buah dada Reporter Wanita Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Mungkin baru pertama kali melihat dan merasakan lembut, cantik dan putihnya buah dada wanita Jepang, wanita suku bangsa Korowai tampak senang sekali dan tertawa terbahak beberapa waktu lalu ketika dikunjungi reporter wanita NTV Jepang ke desa Korowai di Papua dekat perbatasan Papua Newguinea.

"Wah bagus ya cantik ya lembut dan putih, aduuuhh bagus sekali buah dadanya," papar seorang wanita Korowai yang mengintip dan setelah itu meremas buah dada reporter wanita Jepang dari NTV yang disiarkan kemarin malam (2/5/2017).

Sekitar lima orang wanita suku pedalaman terasing Korowai (tentu tanpa bra hanya tirai rumput seperti rok menutupi bagian bawahnya) berkumpul bersama reporter wanita itu.

Lalu seorang di antaranya mengintip buah dada sang reporter wanita, disusul wanita lain, yang kemudian meremasnya mau tahu seperti apa rasanya, pertama kali bagi mereka.

Tentu saja sang reporter wanita malu dan tertawa terbahak pula menghadapi kerumunan wanita Kurowai tersebut yang sangat ingin tahu mengenai buah dadanya.

Suku bangsa Kurowai saat ini berjumlah sekitar 2900 orang dan sebagian kini sudah mulai ke luar ke masyarakat umum terutama anak-anak mereka mulai disekolahkan.

Namun beberapa anak kecil yang diwawancara NTV menjawab, "Enak di sini saja bebas, nyaman, makanan semua ada, tak berkekurangan, tak mau ke luar ah," papar mereka.

Penyakit malaria masih ada sehingga penyebaran obat malaria masih terus dilakukan ke sana sebagai antisipasi terhadap penyakit tersebut.

Itulah pula sebabnya mengapa mereka membuat rumah tinggi di atas pohon untuk menjauhi nyamuk malaria.

Namun pemikiran mereka untuk menjauh dari roh buruk (jahat) yang ada di hutan.

Namun kalangan wanitanya menghindar sehingga dibuatlah satu tempat terbuka agak luas di tepian sungai, dibuatlah rumah sederhana dari tumbuhan batang pohon yang ada di sana dan bermukimlah mereka di pinggiran sungai tersebut bersama anak-anaknya.

Tentu saja di sana tak ada listrik, tak ada gas, dan air berasal dari sungai yang ada di sana, dipakai untuk minum, untuk masak dan untuk mandi.

Sedangkan makanan dari binatang yang ada di hutan, baik babi hutan, kelelawar, tikus hutan, ikan dan sebagainya.

Pakaian mereka serta kain gendongan buat anak dan bayu dibuat sendiri dari pepohonan yang ada di sana, dijadikan benang dan dirajut sendiri.

Pewarnaan benang rajut pun dari pohon-pohon tumbuhan yang ada di sana.

Menarik pula ada gendongan bukan untuk anak, tetapi seorang Korowai menggendong anjing di belakangnya pakai kain rajutan tersebut.

Sagu menjadi makanan pokok mereka. Sekali tebang bisa membuat sagu yang dikeringkan lalu sebelum dimakan dibakar, bisa disimpan untuk satu bulan.

Menarik juga seorang anggota Korowai bernama Marko dengan inisiatifnya melakukan penghijauan pohon sagu, "Kalau sudah tebang pohon sagu harus menghijaukan tanam anaknya juga supaya tidak habis pohon sagu nanti bagi generasi mendatang," paparnya kepada reporter wanita tersebut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help