BBC

Mengapa pemerintah Cina melarang Winnie the Pooh?

Pemerintah Cina menyensor foto-foto tokoh kartun Winnie the Pooh yang kerap dikaitkan dengan Presiden Xi Jinping.

Sepintas keputusan pemerintah Cina melarang tokoh fiksi Winnie the Pooh terlihat sangat aneh dan susah dipahami.

Tapi sebenarnya ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk membatasi para penulis blog yang makin pintar mengakali sensor ketat di negara tersebut.

Bagi warga di Cina, sudah sejak lama Winnie the Pooh tak sekedar nama beruang yang kisahnya banyak dibaca oleh anak-anak di seluruh dunia.

Di Cina, Winnie the Pooh sering dipakai untuk mengacu ke Presiden Xi Jinping. Di negara dengan sensor yang sangat ketat, para penulis blog menggunakan Winnie the Pooh saat membahas Presiden Xi.

Seperti ketika Presiden Xi melakukan salaman yang kaku dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Para pengguna internet di Cina ramai membagikan foto Winnie the Pooh yang terlihat tidak tulus berjabat tangan dengan Eeyore.

Begitu juga ketika media pemerintah mengeluarkan foto Presiden Xi berada di atas mobil sedan lengkap dengan bendera Cina. Tak lama kemudian muncul di internet foto Winnie the Pooh di atas mobil mungilnya.

Presiden Xi dan Presiden Obama
Weibo/AFP
Meme foto Presiden Xi dan Presiden Obama beredar pada 2013.

Tidak ada penjelasan mengapa pemerintah di Beijing melarang Winnie the Pooh. Tapi langkah ini diyakini tak hanya sebagai upaya mencegah olok-olok terhadap pejabat tinggi negara, tapi juga menghentikan sama sekali 'pengaitan Winnie the Pooh dengan Xi Jinping'.

Di negara-negara lain, perbandingan ini mungkin hal yang wajar atau mungkin diterima dengan baik.

Konsolidasi kekuasaan

Di Cina situasinya berbeda karena presiden atau pemimpin negara adalah sosok yang serius, tegas, dan tak melakukan hal-hal yang bodoh. Ia adalah orang nomor satu dan apa yang ia putuskan tak boleh dipertanyakan apalagi ditentang.

Sensor di Cina begitu ekstrem yang membuat kata atau nama yang dianggap sensitif oleh pemerintah tak akan bisa dipakai.

Halaman
12
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help