Hyakuta: Hubungan Jepang-Korea Rusak Gara-gara Koran Asahi

Naoki Hyakuta (61), kritikus Jepang mengungkapkan hubungan antara Jepang-Korea rusak gara-gara koran Jepang Asahi.

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Naoki Hyakuta (61), seorang penulis siaran TV dan novelis serta kritikus Jepang mengungkapkan hubungan antara Jepang-Korea rusak gara-gara koran Jepang Asahi.

Penyebabnya koran Asahi selama puluhan tahun menulis artikel mengenai Jugun Ianfu (wanita pelayan tentara Jepang zaman Perang Dunia II) yang dianggap palsu.

"Sejak 32 tahun lalu memuat tulisan palsu tidak dikoreksi, didiamkan saja. Tulisan palsu mengenai Jugun Ianfu yang ternyata palsu setelah puluhan tahun, menyebar ke berbagai belahan dunia, mengakibatkan hubungan Jepang-Korea jadi rusak," kata Hyakuta dalam jumpa pers 4 Juli 2017 di klub wartawan asing Jepang.

Hyakuta berulang kali mengatakan bahwa akibat posting berita dan tulisan Asahi itulah kini masalah itu jadi besar di dunia dan hubungan kedua negara Jepang-Korea sampai rusak, bahkan muncul pelaporan dari orang Jepang ke badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

"Orang yang anti Jepang menggunakan PBB sebagai upaya menjatuhkan pemerintah Jepang. Dengan dana mereka sendiri tiap tahun menjelekkan Jepang, termasuk kasus Jugun Ianfu dibawa mereka ke PBB," kata Hyakuta.

Kasus Jugun Ianfu tersebut dibawa bahkan oleh dua pengacara Jepang ke PBB lebih dari 22 tahun yaitu pengacara Totsuka dan pengacara Takagi ke PBB.

"Mereka appeal ke PBB. Banyak orang menggunakan PBB untuk mengkritik negaranya Jepang," kata dia.

Pihak Kementerian Luar Negeri Jepang (MOFA) tidak bereaksi.

"Kemudian 2 tahun lalu ada warga Jepang, Sugita ke PBB melaporkan ke badan internasional itu bahwa selama ini pernyataan dari warga Jepang yang menjelekkan Jepang itu adalah bohong semua. Tentu saja PBB kaget dan bingung lalu menghubungi MOFA," katanya.

Pihak MOFA menanggapi PBB bahwa semua itu benar, selama ini laporan yang dilakukan Totsuka dan Takagi ke PBB palsu.

"Bodoh ya MOFA kenapa menjawab PBB? Mungkin saya anti Jepang ya?" kata Hyakuta disambut tawa wartawan yang hadir.

Pers Jepang terutama penyiaran TV Jepang yang banyak menyerang pemerintah Jepang juga dikecam Hyakuta.

"Lihat itu penyiaran 1 Juli lalu yang justru banyak menyorot yang menentang PM Jepang Shinzo Abe. Semua penyiaran menyorot satu kelompok kecil yang mengkritik Abe minta Abe pulang. Itu jelas editan TV. Padahal banyak sekali di sekitar Abe yang serius mendengar memperhatikan kampanye Abe saat itu mengapa tidak menyorot yang lain, tapi hanya menyorot kelompok yang duduk di luas 30 meter persegi itu saja?" katanya.

Seorang wartawan bertanya apakah Hyakuta bisa menyarankan Abe agar bicara lebih halus lagi kepada pengkritiknya?

"Kalau saya bukan sarankan Abe bicara lebih halus lagi kepada pengkritiknya, sebaliknya saya malah sarankan agar Abe bicara lebih kasar lagi kepada mereka karena selama ini hanya mengkritik saja," kata Hyakuta.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help