Biaya Medis Ditanggung Pemerintah Jepang Tahun 2015 Sebesar 42,36 Triliun Yen

Kenaikan biaya medis Jepang pun merupakan kenaikan ke-9 kali berturut-turut dalam 9 tahun terakhir ini.

Biaya Medis Ditanggung Pemerintah Jepang Tahun 2015 Sebesar 42,36 Triliun Yen
Richard Susilo
Kantor kementerian tenaga kerja dan kesehatan Jepang di Kasumigaseki Tokyo Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jumlah biaya medis yang ditanggung pemerintah Jepang selama tahun fiskal 2015, dua tahun lalu sebesar 42,36 triliun yen, angka terbesar dalam sejarah medis yang ditanggung pemerintah Jepang.

"Jumlah biaya medis tersebut berarti naik 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya 2014," papar sumber Tribunnews.com Rabu ini (13/9/2017).

Kenaikan biaya medis Jepang pun merupakan kenaikan ke-9 kali berturut-turut dalam 9 tahun terakhir ini.

Dengan demikian rata-rata per warga Jepang, pemerintah mengeluarkan biaya 333,300 yen per tahun atau kenaikan 12.200 yen dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan kategori usia penduduk, maka antara nol sampai dengan 14 tahun ditanggung pemerintah Jepang mengeluarkan biaya medis rata-rata sebesar 158,800 yen

Lalu untuk usia 15 tahun sampai dengan 44 tahun sebesar 121,000 yen dan antara 45-64 tahun sebesar 284,800 yen.

Sedangkan yang berusia 65 tahun ke atas pemerintah Jepang menanggung biaya sebesar 741.900 yen per tahun per orang.

Dengan demikian biaya yang dipakai untuk pengobatan kaum lanjut usia (65 tahun ke atas) sesunggunya 4 kali lipat lebih besar daripada biaya bagi manusia yang masih muda.

Baca: Ada Wanita Jepang Bergabung ke ISIS, Dijanjikan Dapat Uang 5000 Dolar AS

"Usia penduduk sudah semakin tua secara rata-rata di Jepang jadi butuh teknologis medis untuk bisa mengurangi biaya pengeluaran tersebut.#

Penjualan obat anti hepatitis C mulai ditingkatkan penjualannya sehingga biaya-biaya medis pengeluaran ini sebenarnya perlu diperhatikan lagi lebih lanjut di masa depan agar dapat terkontrol dengan baik pembengkakan biayanya," ungkapnya lagi lebih lanjut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help