Dentsu Jepang Harus Bayar 500.000 Yen Pekerjakan Karyawan Hingga Meninggal

Tidak bisa dilupakan bahwa hidup yang berharga di lembur secara ilegal telah terjadi

Dentsu Jepang Harus Bayar 500.000 Yen Pekerjakan Karyawan Hingga Meninggal
Richard Susilo
Ibu Yukimi Takahashi (paling kanan) dalam jumpa pers Jumat ini setelah keputusan pengadilan Tokyo mengenai putrinya (kiri) Matsuri, meninggal karena bekerja berlebihan di Dentsu Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pengadilan negeri Tokyo memutuskan denda 500.000 yen kepada perusahaan periklanan Jepang dentsu Jepang karena mempekerjakan berlebihan Matsuri Takahashi, almarhumah yang bunuh diri saat usia 25 tahun tanggal 25 Desember 2015 di rumahnya di Tokyo.

"Tidak bisa dilupakan bahwa hidup yang berharga di lembur secara ilegal telah terjadi sampai hasil nya mengakibatnya korban bunuh diri," papar Ketua Hakim Tsutomu Kikuchi Jumat ini (6/10/2017).

Dentsu dianggap melanggar standar hukum perburuhan di Jepang membiarkan karyawannya bekerja berlebihan dari waktu kerja yang seharusnya.

"Rencana perbaikan dari jam kerja perlu segera diterapkan kepada semua karyawan dan berharap peran industri dengan manajemennya dapat mengikuti semua peraturan perundangan yang ada," tambahnya.

Setelah keputusan tersebut, Presiden Dentsu Toshihiro Yamamoto membungkuk ke tempat duduk yang hadir di pengadilan dimana ibunya Takahashi hadir saat itu, lalu meninggalkan pengadilan.

Yukimi Takahashi, Ibunya Matsuri melakukan jumpa pers dan mengingatkan kepada semua orang agar para perusahaan memegang teguh peraturan perburuhan sehingga jangan sampai lagi terjadi kasus serupa speerti terjadi pada puterinya, ungkapnya yang diakhiri dengan tangis mengenang puterinya kembali.

"Perbuatan Dentsu adalah sebuah kejahatan, telah terbukti di pengadilan dan merupakan tanggungjawab perusahaan. Saya berharap sekali Badan tenaga Kerja Jepang melakukan pengawasan yang ketat kepada para pimpinan perusahaan agar kasus ini jangan terulang lagi di masa depan," tambahnya.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help