Kisah Perjuangan Tiada Henti Seorang Ibu di Jepang 10 Tahun Setelah Putrinya Dibunuh

Fumiko berjuang terus hingga akhirnya mendapatkan dukungan dan tanda tangan dari sedikitnya 318.000 warga Jepang.

Kisah Perjuangan Tiada Henti Seorang Ibu di Jepang 10 Tahun Setelah Putrinya Dibunuh
Chunichi Shimbun
Fumiko Isogai dan foto putrinya Rie Isogai (31 tahun, saat dibunuh 10 tahun lalu). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perjuangan seorang ibu di Nagoya Jepang, Fumiko Isogai sangat luar biasa. Putrinya dibunuh 10 tahun lalu dan Fumiko berjuang agar tiga pembunuhnya semua dihukum mati.

Padahal hukum Jepang mengatur hukuman mati dilakukan kalau pembunuhan terhadap dua orang atau lebih.

Mengikuti hati seorang ibu, Fumiko berjuang terus hingga akhirnya mendapatkan dukungan dan tanda tangan dari sedikitnya 318.000 warga Jepang.

Dampaknya, terjadi perubahan keputusan pengadilan mulai dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi hingga mahkamah agung.

Rie Isogai (20 Juli 1976 - 25 Agustus 2007) adalah seorang pegawai kantor swasta Jepang berusia 31 tahun saat itu yang dirampok dan dibunuh di Perfektur Aichi, Jepang pada malam 24 Agustus 2007 oleh tiga orang yang berkenalan melalui papan pesan bawah tanah.

Itulah sebabnya kasus ini terkenal dengan nama Pembunuhan Situs Gelap atau Yami Saito Satsujin di Jepang.

Baca: Mak Jariah dan Dedeh Tak Menyangka Dapat Bonus Satu Bulan Gaji Menteri Pertanian

Awal Kisah
Pada tanggal 17 Agustus 2007, Kenji Kawagishi (Kawin Kawagishi Kenji), seorang pria pengangguran berusia 40 tahun yang tinggal di sebuah van, mengirim sebuah pesan untuk mencari mitra dalam kejahatan di situs ponsel yang digunakan untuk bertukar informasi.

Pesan untuk melakukan perampokan dibaca dan ditanggapi oleh Tsukasa Kanda, dan Yoshitomo Hori serta YuichirōoHondo.

Halaman
1234
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help