Pemenang Nobel ICAN dan Korban Bom Atom Ingin Jepang Ratifikasi Pakta Perlucutan Senjata Nuklir

Kami sedih sekali dan ingin sekali pemerintah Jepang ikut serta meratifikasi pakta perlucutan senjata nuklir

Pemenang Nobel ICAN dan Korban Bom Atom Ingin Jepang Ratifikasi Pakta Perlucutan Senjata Nuklir
Richard Susilo
Korban bom Atom Nagasaki Terumi Tanaka, 85 (kiri), Sueichi Kido (77) dan Akira Kawasaki (49) Wakil ICAN di Jepang (kanan) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemenang Nobel perdamaian organisasi ICAN (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons) terutama kepala cabang Tokyo, Akira Kawasaki (49) beserta para korban bom atom Nagasaki saat perang dunia kedua, Terumi Tanaka, 85 dan Sueichi Kido (77), ingin sekali pemerintah Jepang menandatangani dan meratifikasi pakta kesepakatan perlucutan senjata nuklir dunia yang saat ini disetujui skeitar 150 negara di dunia. Namun Jepang dan AS belum meratifikasi pakta tersebut.

"Kami sedih sekali dan ingin sekali pemerintah Jepang ikut serta meratifikasi pakta perlucutan senjata nuklir secara total, sehingga dunia akan terasa aman sejuk tanpa nuklir," papar Kawasaki.

Kedua korban baik Kido maupun Tanaka yang pernah menjadi korban bom atom juga sejak kecil sepakat untuk meniadakan bom atom di atas bumi ini.

"Kalau say abukan hanya sedih tapi juga marah sebenarnya, kecewa sekali, mengapa Jepang negeri saya sendiri yang pernah mengalami jadi korban bom nuklir justru tidak meratifikasi paksa perlucutan bom atau persenjataan nuklir hingga zero sampai dengan detik ini. Ini sangat memalukan," tegas Kido.

Saat ini sedang ada pemilihan umum untuk anggota parlemen majelis rendah Jepang.

"Saya akan keliling ke semua parkas besar partai politik Jepang menghimbau agar mereka apabila menjadi pemerintahan nanti mau meratifikasi pakta tanpa nuklir tersebut nantinya," tambah kawasaki lagi.

Kawasaki mengakui kesibukan luar biasa setelah diumumkan dan mendapat hadiah Nobel, belum sempat bicara dengan Kepala ICAN di Swiss, Beatrice Fihn.

"Maaf kita sibuk sekali saat ini belum sempat bicara mengenai peruntukan uang Nobel itu apakah untuk korban bom atom Nagasaki Hiroshima atau bagaimana, saya belum bicara hal tersebut," ungkapnya khusus kepada Tribunnews.com sore ini (11/10/2017).

Yang pasti bulan Desember mendatang kemungkinan Fihn akan ke Jepang dan ingin menemui para korban bom atom Nagasaki Hiroshima.

"Kalau kita dapat undangan, kalau bisa rombongan kita semua diundang, ya pasti kita datang ke Tokyo, dan mudah-mudahan bis abertemu Fihn di sini ya," papar Tanaka sebagai Kepala Konfereasi Korban Bom Atom Jepang (Hidankyo) sore ini pula.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help