Pembawa Musik Funkot Indonesia ke Jepang, Berjuang Terus Agar Populer

Saya suka nama Mandokoro karena sekitar tahun 1185-1191 sebagai pimpinan yang sangat penting di pemerintahan

Pembawa Musik Funkot Indonesia ke Jepang, Berjuang Terus Agar Populer
Richard Susilo
Katsumi Takano (40) DJ terkenal Jepang yang puluhan kali bolak balik ke Indonesia, sempat jadi DJ pula di banyak tempat di Indonesia. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Apabila kita ke klub malam di Jakarta atau kota besar dan Bali, maupun ke Karaoke, seringkali dengar music Funkot (Funky Kota).

Memang asli berasal dari Indonesia dan sejak 10 tahun lalu dibawa ke Jepang sampai kini berusaha dipopulerkan oleh DJ Katsumi Takano atau sering dijuluki atau dikenal dengan nama Mandokoro Takano.

“Saya suka nama Mandokoro karena sekitar tahun 1185-1191 sebagai pimpinan yang sangat penting di pemerintahan dan tahun 1586 terkait wanita kerajaan dan julukan yang disukai wanita,” ungkap Takano kelahiran Kawasaki 27 Januari 1977 khusus kepada Tribunnews.com mala mini (16/10/2017).

Ke Indonesia baik ke Jakarta maupun ke Bali sudah puluhan kali paling lama dua minggu, ungkapnya.

Pernah menjadi DJ (DiscJockey) di banyak klub malam di Indoensia dan paling mahal pernah terima upah 50.000 yen di sebuah diskotik di Banjarmasin.

“Saya diajak teman Jepang ke Banjarmasin jadi DJ di sana, tapi sekarang diskotik itu (Millenium) tampaknya sudah tak ada, dan dapat upah sekitar 50.000 yen semalam,” papar lulusan Universitas Meiji tahun 1999 itu.

Tahun 1996 sebelum lulus sekolah Takano yang memang suka musik Techno membuat Techno Unit "Leopaldon" (solo unit) dan setelah lulus 1999 sempat bekerja di perusahaan konstruksi dan konsultan pembuatan pipa dan saluran pembuangan air.

Ke Indonesia sekitar tahun awal tahun 2000 berkenalan dengan orang Jepang bernama Makoto di Bali dan Christ yang mengelola sekolah Top Ten DJ di Bali, kemudian dikenalkan ke DJ Indonesia Jockey Saputra.

Dari merekalah Takano mengakui belajar musik Funkot secara otodidak dikawinkan dengan naluri DJ musiknya sendiri.

Tahun 2004 membuka Acid Panda Café di Otaku Tokyo hingga akhirnya ditutup tahun 2015 karena Maret 2015 Takano terlibat narkoba dan dihukum 3 tahun oleh polisi, “Baru berakhir hukumannya pertengahan tahun depan,” paparnya mengakui.

Mulai tahun 2004 setelah membuka toko sendiri dan khususnya tahun 2007 sudah 10 tahun terakhir ini, Takano mempopulerkan Funkot Indonesia di Jepang.

Baik saat main sebagai DJ dnegan karya-karyanya sendiri yang diramu menjadi musik Funkot, atau pun dengan mencampurkan karya lainnya dirakit menjadi musik Funkot.

Demikian pula promosi lewat radio dan televisi saat diwawancarai atau pun lewat media sosial seperti facebook dan instagram, pengakuannya.

Awalnya dia punya sekitar 4 muridnya yang menyenangi Funkot, kini sudah sekitar 100 siswanya, termasuk para DJ muda Jepang yang menyukai Funkot.

“Saya berharap dapat lebih meluas lagi Funkot Indonesia di Jepang karena memiliki kategori tersendiri, asli hanya dari Indonesia saja. Ini langka dari Asia karena biasanya kategori musik lahir dari Amerika, misalnya jazz, rock dan sebagainya. Tapi ini satu kategori baru yang enerjik, menarik sekali bagi anak muda, tampak jadi segar kalau dengarkan musik Funkot ini,” ceritanya.

Itulah alasannya membawa masuk Funkot Indonesia ke Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help