Satu dari Lima Pekerja di Jepang Alami Masalah Ketidaksuburan

Hasil survei Yayasan Fine di Tokyo Jepang menunjukkan satu orang mengalami infertilitas dari lima warga Jepang saat ini.

Satu dari Lima Pekerja di Jepang Alami Masalah Ketidaksuburan
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Akiko Matsumoto, Ketua Yayasan Fine Tokyo Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Ketidaksuburan (infertilitas) ternyata cukup banyak terjadi di Jepang.

Hasil survei Yayasan Fine di Tokyo Jepang antara Maret sampai dengan Agustus 2017 melalui internet, menunjukkan satu orang mengalami infertilitas dari lima warga Jepang saat ini.

"Sebenarnya sangat disayangkan sekali kita harus menyerahkan hidup kepada karir sehingga kehilangan privasinya. Sangat penting bagi negara atau perusahaan swasta untuk memberikan dukungan lebih banyak lagi kepada karyawannya supaya terbentuk suasana lingkungan kerja yang lebih baik lagi, memberikan kepercayaan diri kepada karyawannya. Sehingga privasinya dapat terjaga lebih baik lagi termasuk kesuburan dapat tercipta dengan baik," kata Akiko Matsumoto, Ketua Yayasan Fine, Senin (30/10/2017).

Hasil penelitiannya terhadap 5.127 responden menghasilkan jawaban bahwa saat ini banyak sekali (20 persen) terjadi ketidaksuburan di tengah masyarakat Jepang.

Baca: Tak Ada Lagi Senyuman Surnah, Dia Meninggal Setelah Satu Bulan Bekerja

Para responden adalah pekerja. Suasana bekerja yang stres saat ini menjadi salah satu penyebab ketidaksuburan tersebut.

Sebanyak 40 persen responden mengatakan "Tak bisa berbuat apa-apa terhadap suasana kerja di tempatnya."

Sedangkan satu di antara 10 pekerja menyatakan mengalami perubahan tempat kerja supaya bisa bekerja dengan lebih nyaman lagi.

"Bagi yang mengalami ketidaksuburan itu sebenarnya mereka harus punya niat kuat untuk memilih mana yang lebih penting, bekerja atau ketidaksuburannya berakibat ketidakbahagiaan rumah tangga," kata Akiko Matsumoto.

"Jadi ya memang agak sulit dalam pemilihan tersebut kecuali pihak pemerintah atau perusahaan mengubah lingkungan kerja, sehingga para pekerjanya menjadi lebih nyaman lagi dan tidak perlu muncul pemikiran, mengapa saya mesti bekerja kalau badan jadi begini?" kata dia.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help