Pegawai Mitsubishi Jepang Gelapkan Uang Perusahaan 1 Miliar Yen

Polisi Tokyo telah menahan seorang mantan karyawan anak perusahaan grosir makanan Mitsubishi Shokuhin yang dicurigai melakukan penggelapan dana.

Pegawai Mitsubishi Jepang Gelapkan Uang Perusahaan 1 Miliar Yen
TV Asahi
Takao Nakade 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Polisi Metropolitan Tokyo telah menahan seorang mantan karyawan anak perusahaan grosir makanan Mitsubishi Shokuhin yang dicurigai melakukan penggelapan dana sebesar 1 miliar yen selama hampir satu dekade.

"Pada lima kesempatan yang dimulai pada bulan April 2012, Takao Nakade, kepala penjualan yang berusia 59 tahun di Fine Life, diduga menyalahgunakan total 42 juta yen dari perusahaan Mitsubishi Shokuhin dengan membuat faktur palsu untuk pembelian tiket kereta peluru Shinkansen yang digunakan oleh anak usaha toko Lawson, yang merupakan klien perusahaan," ungkap sumber Tribunnews, Sabtu (11/11/2017).

Baca: Donald Trump Duduk Berdampingan dengan Iriana Jokowi saat Gala Dinner KTT APEC

Tersangka mengubah tiket menjadi uang tunai. Tersangka mengunjungi toko-toko yang menangani hadiah, tiket dan kupon-kupon.

Nakade mengakui tuduhan tersebut kepada pihak kepolisian Jepang.

Menurut polisi, Nakade diyakini telah menggunakan cara serupa untuk menipu perusahaannya sendiri Mitsubishi Shokuhin, sehingga berjumlah kerugian sekiar satu miliar yen sejak 2008 hingga kini.

"Tersangka menggunakan dana untuk membeli tempat tinggal, sebuah mobil kelas atas dan tiket pesawat kelas satu untuk perjalanan ke luar negeri," kata polisi Metropolitan Tokyo.

Baca: Petinggi Golkar Sambangi Kediamannya saat Setya Novanto Dikabarkan ke Klinik Lagi

Menurut polisi, setelah dilakukan pengusutan lebih mendalam ternyata Nakade memang diyakini telah menggelapkan uang perusahaannya sekitar satu miliar yen.

Pertumbuhan ekonomi Jepang yang praktis masih flat saat ini berkitar nol sampai satu persen, sedangkan harga berbagai produk mulai naik di Jepang, membuat beberapa warga Jepang kesulitan keuangan.

"Sehingga meningkatkan moral hazard atau keinginan jahatnya termasuk karyawan di perusahaan besar seperti Mitsubishi tersebut," kata dia.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help