BBC

Pengungsi Pulau Manus membeberkan ketakutannya sebelum dikeluarkan paksa dari tahanan imigrasi

Pencari suaka dan pengungsi yang tinggal di tahanan imigrasi Pulau Manus, Papua Nugini membeberkan kecemasan, karena sewaktu-waktu bisa dipaksa

Pencari suaka dan pengungsi yang tinggal di tahanan imigrasi Pulau Manus, Papua Nugini membeberkan kecemasan, karena sewaktu-waktu bisa dipaksa keluar dari kamp tahanan tersebut.

Ini merupakan dampak dari putusan Pengadilan Papua Nugini yang menetapkan untuk tidak melanjutkan memberikan layanan dasar kepada para penghuni kamp pengungsi Pulau Manus. Kamp itu dulu dibangun dan dikelola oleh Australia, namun sekarang ditutup.

Sejumlah pengungsi telah dipindahkan ke tiga pusat transit, sementara 400 orang tetap berada di sana, kendati sudah tak ada listrik, air bersih, dan pasokan makanan.

BBC berbicara dengan dua pengungsi yang masih berada di lokasi pusat penahanan Manus untuk memahami bagaimana perasaan mereka menjelang batas waktu pengusiran.

'Kita tidak tahu apa yang akan terjadi'

Walid Zazai sudah tinggal di Pulau Manus sejak empat tahun lalu.

"Banyak orang yang ketakutan," ujarnya kepada BBC. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok."

"Saya sangat takut. Saya tidak tahu kapan mereka akan datang, mungkin subuh nanti, kami tidak tahu.

"Kami tak bisa tidur normal pada malam hari -kami giliran tidur untuk berjaga-jaga ketika yang lain tidur selama satu jam atau dua jam.

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help