20 Persen Pelajar SMP/SMA di Jepang Sering Berpikir Ingin Mati

Hasil survei yang diumumkan minggu lalu bahwa sekitar 20 persen pelajar SMP dan SMA di Jepang banyak yang memiliki pikiran "ingin mati".

20 Persen Pelajar SMP/SMA di Jepang Sering Berpikir Ingin Mati
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Tulisan shinitai (ingin mati) banyak dijumpai pada ponsel pelajar SMP dan SMP Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebuah survei dilakukan Kementerian Kesehatan Jepang bersama profesor Universitas Rumah Sakit Kurume, Shinichiro Nagamitsu, sejak Oktober dan November tahun lalu.

Hasil survei yang diumumkan minggu lalu bahwa sekitar 20 persen pelajar SMP dan SMA di Jepang banyak yang memiliki pikiran "ingin mati" dalam kehidupannya saat ini.

"Survei dilakukan terhadap lebih dari 22.000 pelajar SMP dan SMA di Jepang selama Oktober dan November tahun lalu," ungkap sumber Tribunnews.com, Sabtu (18/11/2017).

Jawaban terkadang memiliki perasaan "ingin mati" sebanyak 23,7 persen.

Baca: Terungkap Alasan Sejumlah WNI Minta Visa Suaka ke Jepang

Sedangkan yang selalu berpikir "ingin mati" sebanyak 2,1 persen. Lalu jawaban, "Saya coba ingin bunuh diri di masa lalu" sebanyak 5,4 persen.

Lalu bagaimana menjawab stres "ingin mati" tersebut?

Ternyata paling banyak mencurahkan ke media sosial baik Twitter atau dinding chatting di internet. Lalu ada pula yang mencurahkan stresnya kepada keluarga dan juga teman-temannya.

"Jika kita berurusan dengan bunuh diri dengan menggunakan cara pendidikan, kita meninggalkan gagasan tetap untuk membesarkan anak yang sedang tidur. Sangat perlu bagi banyak institusi untuk bekerja sama dan melakukan tindakan pencegahan secara nyata," kata sang Profesor Nagamitsu.

Baca: Apresiasi TNI dan Polri, Ketua Fraksi PKS: Ini Bukti Negara tidak Kalah Melawan Teror

Seorang pemimpin sebuah LSM Jepang, Jiro Ito, membuat halaman konsultasi di internet yang membicarakan mengenai keinginan bunuh diri dan solusi pemecahan masalah tersebut.

"Saya tergerak membuat ruang konsultasi setelah mendengar sebuah keluhan dari beberapa pelajar di Shibuya Tokyo pada saat malam hari ke sana," ungkap Ito yang menerima sekitar 150 konsultasi orang yang mau bunuh diri per tahun.

Seorang pelajar wanita 19 tahun merasa stres mau bunuh diri karena melihat hubungannya dengan teman-temannya tidak baik dan dijauhkan serta mendapatkan ijime (bully).

"Mengeluarkan stres banyak sekali lewat internet dan tidak sedikit yang mendapat simpati dari para pembacanya. Mungkin cara tersebut bisa ikut membantu secara nyata mengurangi rasa atau keinginan bunuh dirinya di masa depan," tambah sumber itu.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help