Keluhan Biro Perjalanan Yang Mengurusi Kelompok Turis Indonesia ke Jepang

Turis Indonesia umumnya tidak disiplin, seenaknya sendiri seperti berada di negaranya sendiri

Keluhan Biro Perjalanan Yang Mengurusi Kelompok Turis Indonesia ke Jepang
Richard Susilo
Gunung Fuji yang keramat bagi warga Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jumlah turis Indonesia yang ke Jepang antara Januari hingga 31 Oktober 2017 meningkat 30,3% dibandingkan tahun lalu, sehingga mencapai 271.400 orang. Banyak kelompok turis (grup tur) Indonesia ke Jepang saat ini, tetapi sekaligus memusingkan banyak biro perjalanan yang mengurusnya.

"Turis Indonesia umumnya tidak disiplin, seenaknya sendiri seperti berada di negaranya sendiri," papar sumber Tribunnews.com sebut saja bernama Mawar.

Tur guide dan pemilik perusahaan biro perjalanan ini seringkali memang menangani grup tur dari Indonesia dan terus terang mengakui kewalahan menghadapi sesama orang Indonesia.

"Paling mudah misalnya rencana ikut tur 19 orang ternyata tiba di Narita bertambah satu orang. Pikiran orang Indonesia serba menggampangkan tetapi bagi kita di Jepang pusing setengah mati hanya karena mendadak bertambah satu orang."

Penambahan satu orang berarti berubah mobil, karena kalau duduk bertiga di depan dilarang di Jepang. Berarti tambah satu mobil jadinya sangat mahal sekali apalagi mendadakan semua permintaan itu.

"Jepang adalah negara yang teratur dan semua serba perencanaan. Tidak bisa mendadakan berubah, kacau semua kita. Penambahan satu orang saat makan juga akan bertambah satu orang. Bukan soal uang bertambah, tetapi pengurusan kursi juga membingungkan hanya karena tambah satu orang."

Pikiran orang Indonesia, tambahnya, selalu menggampangkan, "Yang pentingkan dibayar semua beres bukan? Bukan itu masalah di Jepang bukan soal uang saja, tetapi segala pengaturan jadi berubah. laporan ke tempat tujuan juga semuanya berubah, harus didaftar dan dilaporkan ulang lagi ke segala tempat dan sebagainya. Repot mendadakan begitu."

Hal-hal kelihatan sangat sederhana yang mungkin gampang di mata orang Indonesia, seringkali jadi sulit kalau sudah berada di Jepang.

"Kelihatan memang aneh. Kita bayar tambahan semua itu, tetapi malah ada tempat yang menolaknya. Kalau tidak ya kelompok harus dibagi dua dalam menonton pertunjukan di sebuah tempat karena kursi jadi kurang gara-gara grup tur Indonesia mendadak bertambah dua atau tiga orang. Nah kalau sudah dibagi dua grup jam tonton berlainan, kan jadi kacau semua pengaturan jadwal perjalanan bukan?"

Masalah juga sudah mulai dari pengurusan visa Jepang di kedutaan Jepang di Jakarta atau di konjen yang ada di beberapa kota di Indonesia.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help