Menteri Susi Agak Lega Kini Karyanya Ada Yang Mengapresiasi Secara Internasional

Kebijakan moratorium Indonesia adalah kebijakan terbaik di dunia bagi semua negara ASEAN

Menteri Susi Agak Lega Kini Karyanya Ada Yang Mengapresiasi Secara Internasional
Richard Susilo
Chanintr Chalisarapong, Presiden Asosiasi Industri Tuna Thailand 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Kelautan dan Perikanan DR (HC) Susi Pudjiastuti merasa lega kali ini karena secara international telah ada pengakuan dan apresiasi dari negara lain mengenai karya yang dilakukannya selama ini bagi bangsa dan negara ini.

"Alhamdullillah, syukurlah. Akhirnya semua mengakui dan recognise kita di Indonesia telah berhasil melakukan yang terbaik untuk dunia perikanan kita," paparnya khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (22/11/2017).

Dalam Lokakarya tentang Mengidentifikasi risiko kejahatan ekonomi dan korupsi di sektor perikanan di Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) tanggal 22 November 2017 ini di Bangkok, Dr.Chanintr Chalisarapong, Presiden Asosiasi Industri Tuna Thailand mengakui kehebatan Susi dalam memberantas para perampok perikanan Indonesia.

"Kebijakan moratorium Indonesia adalah kebijakan terbaik di dunia bagi semua negara ASEAN yang mungkin perlu menirunya. Saat ini stok ikan tuna di Indonesia meningkat secara signifikan. Para nelayan lokal mendapatkan keuntungan darinya, mereka mendapatkan ikan yang bagus dan besar di Laut Arafura," tekan Chalisarapong,

Dengan demikian menjadikan tidak perlu berurusan dengan dealer, broker, pejabat tinggi pemerintah.

"Saya mendukung kebijakan untuk menenggelamkan kapal, bagus. Negara lain harus mengadopsinya. Setiap kapal yang melanggar hukum, lalu membakarnya," paparnya lagi.

Negara lain masih membangun banyak kapal, seperti China, Korea, Taiwan, Vietnam. Perlu kita perhatikan sekali hal tersebut.

"Jadi saya memberikan rekomendasi ke semua negara, beli kapal komersial, dan Scrap It!" tekan Chalisarapong, lagi.

Tidak ada lagi kapal penangkap ikan komersial yang besar, tidak menguntungkan, tidak ada masa depan di sana. Beberapa pemilik bisnis mengetahuinya, mereka perlu mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan ikan sampah, jadi mengapa mereka menggunakan tenaga kerja murah?

Chalisarapong, juga berharap, "Kepada semua negara, silakan berhenti untuk mensubsidi kapal penangkap ikan. Tolong biarkan ikan ditangkap oleh nelayan setempat, 75% untuk mereka, dan 25% lainnya (maksimum) dari kapal nelayan komersial kecil."

Baginya, Thailand memproduksi tuna dunia terbesar, "Dan kami menjamin bahwa nelayan lokal yang digunakan lebih menguntungkan dan berkelanjutan untuk bisnis. Ikuti peraturan, dan buat audit secara teratur. Kami menerapkan tiga auditor partit, auditor retailer, auditor pembeli dan auditor LSM internasional. Cosco, Tesco dan semua pembeli besar menginginkannya."

Dengan apresiasi tersebut kini Menteri Susi tampaknya semakin lega hasil kerjanya mulai berbuah.

Demikian pula di Jepang, tidak sedikit pejabat di Jepang yang juga berharap Menteri Susi dapat banyak bekerjasama dengan pihak Jepang di masa mendatang untuk pencapaian win-win solution bagi kerjasama kedua negara yang lebih baik lagi.

"Jepang senang sekali Indonesia memiliki menteri yang tegas dan kerja cepat membenahi dunia perikanan Indonesia saat ini. Mungkin Jepang juga bisa membantu Indonesia agar dunia perikanannya lebih semakin baik lagi bagi kemakmuran rakyatnya," papar sumber Tribunnews.com Rabu ini (22/11/2017) seorang pejabat bidang perikanan.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help