Spesialis Crane Jepang, Pemindahan Satu Peti Kemas ke Truk Hanya 70 Detik Saja

Dari ketinggian sekitar 7 meter menggunakan alat crane pemindahan peti kemas memang tidak mudah

Spesialis Crane Jepang, Pemindahan Satu Peti Kemas ke Truk Hanya 70 Detik Saja
NTV/Richard Susilo
Takashi Shimada, 37, spesialis operator crane Mitsui Transportation Co.Ltd 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang spesialis operator crane Jepang dari Mitsui Transportation Co.Ltd ternyata dalam memindahkan peti kemas dari tempat penyimpanan ke atas truk peti kemas hanya membutuhkan waktu 70 detik per peti kemas.

"Dari ketinggian sekitar 7 meter menggunakan alat crane pemindahan peti kemas memang tidak mudah apalagi kalau sudah hujan dan angin kencang sangat berbahaya," papar Takashi Shimada, 37, spesialis operator crane Mitsui Transportation Co.Ltd hari Rabu ini (22/11/2017).

Secara umum rata-rata ketrampilan spesialis operator crane di Jepang sekitar 100 detik per peti kemas.

Namun Shimada hanya butuh 70 detik saja dalam pemindahan petikemas ke truknya.

Dengan demikian dalam satu jam kerja Shimada bisa mentransfer peti kemas dari tempat penyimpanannya ke atas truk petikemas, sebanyak 51 peti kemas atau 408 peti kemas apabila bekerja 8 jam sehari.

"Paling berat memang saat angin dan hujan, kita harus ekstra hati-hati karena pengaruh angin dan hujan akan berayun sedikit mengingat menarikan crave dari ketinggian 7 meter," paparnya.

Di siang hari saat istirahat biasanya Shimada melakukan latihan pembentukan otot dengan mengangkat beban berat di ruangan gym kantornya.

"Supaya tidak ngantuk badan ini dibuat segar dengan olahraga angkat besi tersebut saat kita istirahat," ungkapnya lagi.

Kecanggihan crane Jepang beserta spesialis operator yang canggih seperti Shimada tersebut tampaknya membuat usaha bisnis transportasi dan pelabuhan peti kemas berjalan dengan sangat baik di Jepang saat ini.

Berapa gajinya? Diperkirakan skeitar 600.000 yen sebulan atau sekitar Rp.78 juta per bulan.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help