Dihadapan 1000 Pengusaha Jepang Rachmat Gobel Tak Mau TKI Disebut Bergaji Murah

Lalu Rachmat Gobel juga bicara mengenai unjuk rasa (demo) yang katanya banyak dilakukan di Indonesia.

Dihadapan 1000 Pengusaha Jepang Rachmat Gobel Tak Mau TKI Disebut Bergaji Murah
Richard Susilo
Utusan khusus Presiden Indonesia untuk Jepang Rachmat Gobel (55) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Utusan khusus Presiden Indonesia untuk Jepang Rachmat Gobel (55) di hadapan sekitar 1000 penguasa Jepang yang hadir dalam forum bisnis Jetro Rabu ini (29/11/2017) menekankan tak mau orang menyebut tenaga kerja Indonesia bergaji murah.

"Saya tidak suka kalau ada yang bilang tenag akerja Indonesia dibilang murah," tekannya dalam forum tersebut pagi ini (29/11/2017).

Rachmat Gobel mengajak semua hadirin melihat pekerja Indonesia di pabrik Toyota dan di pabrik Honda di Indonesia.

"Lihat tenaka kerja di sana, mereka bukan sekedar pekerja tetapi pekerja monozukuri yang berkualitas tinggi. Sebelum membuat barang, manusianya berkualitas dulu berpendidikan dulu yang dilakukan oleh para pekerja Jepang kepada pekerja Indonesia. Setelah manusianya dididik dan berkualitas barulah membuat barang. Maka produk akan jadi berkualitas tinggi, hasilnya baik."

Jadi tambahnya, Indonesia bukan bicara soal uang saja, tetapi lebih kepada Value.

"Kita mau perawat Indoensia memiliki standar yang sama nantinya dengan perawat Jepang. makanya belum lama kita mengirimkan perawat ke Nagoya untuk belajar dan nantinya berharap memiliki kualitas tinggi pula, dan pengiriman tenaga Indonesia bukan hanya ke Jepang tetapi juga ke Timur Tengah dan sebagainya."

Lalu Rachmat Gobel juga bicara mengenai unjuk rasa (demo) yang katanya banyak dilakukan di Indonesia.

"Saya kok tidak melihat adanya pekerja perusahaan Jepang di Indonesia yang ikut demo karena memang pekerja Indonesia di perusahaan Jepang semua berkualitas tinggi, SDM nya baik sekali. Jadi yang ikut demo itu biasanya dari perusahaan lain bukan dari perusahaan Jepang yang ada di Indonesia," tekannya lagi.

Indonesia memiliki pasar sangat besar dan perlu keseimbangan pula, selain produksi di dalam negeri juga perlu ekspor supaya seimbang, tekannya lagi.

"Jadi kalau perusahaan Jepang hanya produksi dan jualan di Indoensia saja, kalau ada apa-apa mungkin manajemennya akan pusing juga. Jadi selain jualan di pasar domestik Indoensia, lakukanlah pula ekspor produknya."

Selain itu rachmat Gobel juga menginginkan agar perusahaan Jepang yang ke Indonesia membawa teknologi tingginya masuk ke Indoensia, terutama terkait lingkungan hidup misalnya sehingga memiliki nilai tambah yang snagat baik bagi Indonesia pula.

Sementara itu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyinggung soal keikutsertaan Indoensia terhadap TPP (Trans Pacific Partnership).

"Saat ini kita sedang fokus dan akan jauh lebih baik bergabung di dalam RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) termasuk India China dan Jepang. Mungkin tahun depan kita sudah bisa sepakat semua hal ini dan pasarnya sangat besar sekali RCEP mencapai 3,2 miliar manusia. Sedangkan TPP tampak semakin tak jelas dengan mundurnya Kanada dari TPP pula," paparnya.

Demikian soal bisnis di suatu negara, menurut Menteri Enggartiasto suatu kewajaran kalau negara yang bersangkutan akan melakukan proteksi dalam negeri untuk bisnis dan industrinya, "Hal ini juga saya rasa sama juga dilakukan Jepang supaya industri dan bisnis dalam negerinya bisa tetap hidup dengan baik."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help