PM Jepang Bicara Telpon Dengan Presiden AS, Kecam Keras Peluncuran Rudal Korut

Kami mengecam keras sekali peluncuran ini dan sama sekali tak dapat dimaafkan, sangat keterlaluan

PM Jepang Bicara Telpon Dengan Presiden AS, Kecam Keras Peluncuran Rudal Korut
Asahi
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Selama 20 menit sejak jam 6:35 pagi ini (29/11/2017) waktu Jepang, PM Jepang Shinzo Abe berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan mengecam keras peluncuran rudal Korea Utara (Korut) yang dilakukan pagi ini ke kawasan ekonomi eksklusif Jepang, jatuh di laut, 4000 km sebelah barat perfektur Aomori.

"Kami mengecam keras sekali peluncuran ini dan sama sekali tak dapat dimaafkan, sangat keterlaluan," ungkap Abe.

Kelakuan Korut sudah jelas dan terbukti kuat bahwa tidak ada keinginan dari negara tersebut untuk mengubah kebijakannya yang telah berulang kali dikritik dunia internasional.

"Sudah sangat jelas kini Korut meluncurkan rudalnya yang bertujuan untuk melanjutkan program nuklir dan pengembangan rudalnya saat ini," tambahnya.

Rudal ICBM (intercontinental ballistic missile range) Korut tersebut terbang selama 50 menit dengan jarak ketinggian kali ini sangat tinggi sekali.

Pembicaraan per telepon antara Abe dan Trump kali ini yang ke-17 sejak tanggal 30 Oktober lalu dan kali ini keduanya sepakat untuk mengisolasi lebih lanjut Korut termasuk penekanan sanksi ekonomi lebih dalam lagi kepada negara tirai besi tersebut.

Sementara Menlu Jepang Taro Kono juga mengecam keras Korus juga serta mengirimkan nota protes ke Korut lewat Duta Besar China di Jepang.

"Kini sangat jelas sekali Korut tampaknya memang sama sekali tak punya keinginan untuk melakukan kontrol diri sendiri. Oleh karena itu kita akan kerjasama dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat, akan meminta pihak Dewan Keamanan PBB saat sidang di Itali dan juga di New York agar bisa memberikan tekanan ekonomi jauh lebih keras lagi kepada Korut serta tekanan bersama dari masyarakat internasional."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help