Si Cantik Pengusaha Furniture Indonesia Ini Mencoba Jajaki Pasar Jepang

Wanita cantik ini ternyata pernah pertukaran pelajar saat dia SMA tahun 1997 dan saat ini sudah 10 kali pergi pulang ke Jepang.

Si Cantik Pengusaha Furniture Indonesia Ini Mencoba Jajaki Pasar Jepang
Richard Susilo
Sri Herlina SE, Ak. MM Direktur Marketing Green Riverina, Jepara Indoensia 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang gadis cantik Indonesia menonjol di antara 21 pengusaha Indonesia yang berjejer dan memperkenalkan diri di hadapan ratusan pengusaha Jepang Rabu ini (29/11/2017).

“Siapa sih dia cantik juga ya?” papar Okamoto seorang pengusaha Jepang kepada Tribunnews.com Rabu ini (29/11/2017) di sebuah hotel besar di Tokyo Jepang.

Menjelaskan bahwa itu pengusaha furniture yang baik dan bisa dipercaya dari Indonesia, Okamoto langsung mundur.

“Ya, sayang furniture ya. Kalau bidang energy seperti bisnis saya pasti saya dekatin deh dia,” lanjutnya sambil tertawa kepada Tribunnews.com.

Wanita cantik yang dikaruniai dua orang putera itu adalah Sri Herlina SE, Ak. MM, Direktur Marketing Green Riverina, Jepara Indonesia yang mengaku pertama kali baru menjajagi pasar Jepang melalui Business Forum Indonesia-Jepang yang dibuat oleh badan perdagangan luar negeri Jepang (Jetro) Rabu ini.

Lalu siapa Lina, nama panggilan Sri Herlina ?

Wanita cantik ini ternyata pernah pertukaran pelajar saat dia SMA tahun 1997 dan saat ini sudah 10 kali pergi pulang ke Jepang.

Sejak bikin usaha bersama Managing Director Hendro Widiarso tahun 2013, pusat perhatian bisnisnya ke produk furniture terutama outdoor.

“Kita sudah pernah menjual produk ke Swiss, Perancis, jerman dan Swedia. Lalu untuk resort ke Maladewa, Dubai, Maroko dank e Yunani.”

Saat ini pertama kali ikut oertemuan bisnis di Jepang dan berusaha untuk bisa mengetahui lebih lanjut mengenai bisnis di Jepang.

“Kita akan coba memasuki bisnis wholesaler di Jepang, berharap bisa demikian, tapi kini masih terus mencari tahu lebih lanjut.”

Produknya seperti Kursi meja side table diupayakan untuk ukuran tak begitu besar.

“Karena kan rumah Jepang kecil-kecil ya.”

Oleh karena itulah Lina membuat produk yang Minimalis furniture, bisa dilipat dan tak makan tempat.

Usahanya juga memiliki empat sertifikasi internasional termasuk sertifikasi green product.

Semua sertifikasi diminta Swiss sebagai bukti perusahaan kita diproses secara environmentally friendly.

“Lalu di audit oleh beberapa badan termasuk Bisnis social compliance initiative, agar produk itu tidak merugikan lingkungan hidup dan juga akrab dengan lingkungan kerjanya.”

Ada pula Laboratorium udara, mengecek kebisingan dilihat apakah menganggu komunitas sekitarnya, bagaimana hubungan dengan karyawan dan sebagainya, “Itulah sertifikat yang kita punya cukup banyak tetapi belum ada ISO sih, kecuali ada calon pembeli yang minta ya kita akan proses.”

Lina dan Hendro (Red.: Bukan suami isteri) mereka dulunya pernah bekerja di sebuah consulting company dari Jerman dan juga pernah terlibat di bidang perkayuan.

“Itulah sebabnya kita membuka usaha terkait perkayuan dan berkantor pusat serta pabrik di Jepara Jawa Tengah,” ungkap Lina lagi yang mengaku berasal dari Semarang dan Hendro dari Jakarta.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help